Tampilkan postingan dengan label Udang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Udang. Tampilkan semua postingan
Penyakit Pada Budidaya Udang Windu

Penyakit Pada Budidaya Udang Windu


Penyakit pada Budidaya Udang Windu

Beberapa penyakit yang sering menyerang udang ialah ;
1. Bintik Putih. Penyakit inilah yang menjadi penyebab sebagian besar kegagalan budidaya udang. Disebabkan oleh benjol virus SEMBV (Systemic Ectodermal Mesodermal Baculo Virus). Serangannya sangat cepat, dalam beberapa jam saja seluruh populasi udang dalam satu kolam sanggup mati. Gejalanya : kalau udang masih hidup, berenang tidak teratur di permukaan dan kalau menabrak tanggul eksklusif mati, adanya bintik putih di cangkang (Carapace), sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Virus sanggup berkembang biak dan menyebar lewat inang, yaitu kepiting dan udang liar, terutama udang putih. Belum ada obat untuk penyakit ini, cara mengatasinya ialah dengan diusahakan semoga tidak ada kepiting dan udang-udang liar masuk ke kolam budidaya. Kestabilan ekosistem tambak juga harus dijaga semoga udang tidak stress dan daya tahan tinggi. Sehingga walaupun telah terinfeksi virus, udang tetap bisa hidup hingga cukup besar untuk dipanen. Untuk menjaga kestabilan ekosistem tambak tersebut tambak perlu dipupuk dengan TON.



2. Bintik Hitam/Black Spot. Disebabkan oleh virus Monodon Baculo Virus (MBV). Tanda yang nampak yaitu terdapat bintik-bintik hitam di cangkang dan biasanya diikuti dengan benjol bakteri, sehingga tanda-tanda lain yang tampak yaitu adanya kerusakan alat badan udang. Cara mencegah : dengan selalu menjaga kualitas air dan kebersihan dasar tambak.



3. Kotoran Putih/mencret. Disebabkan oleh tingginya konsentrasi kotoran dan gas amoniak dalam tambak. Gejala : gampang dilihat, yaitu adanya kotoran putih di kawasan pojok tambak (sesuai arah angin), juga diikuti dengan penurunan nafsu makan sehingga dalam waktu yang usang sanggup menjadikan kematian. Cara mencegah : jaga kualitas air dan dilakukan pengeluaran kotoran dasar tambak/siphon secara rutin.



4. Insang Merah. Ditandai dengan terbentuknya warna merah pada insang. Disebabkan tingginya keasaman air tambak, sehingga cara mengatasinya dengan penebaran kapur pada kolam budidaya. Pengolahan lahan juga harus ditingkatkan kualitasnya.



5. Nekrosis. Disebabkan oleh tingginya konsentrasi kuman dalam air tambak. Gejala yang nampak yaitu adanya kerusakan/luka yang berwarna hitam pada alat tubuh, terutama pada ekor. Cara mengatasinya ialah dengan penggantian air sebanyak-banyaknya ditambah perlakuan TON 1-2 botol/ha, sedangkan pada udang dirangsang untuk segera melaksanakan ganti kulit (Molting) dengan pemberian saponen atau dengan pengapuran.
Penyakit pada udang sebagian besar disebabkan oleh penurunan kualitas kolam budidaya. Oleh lantaran itu perlakuan TON sangat dibutuhkan baik pada dikala pengolahan lahan maupun dikala pemasukan air baru.
pembibitan
Cara Pembibitan Udang Windu

Cara Pembibitan Udang Windu


Menyiapkan Benih (Benur)
Benur/benih Budidaya udang sanggup didapat dari daerah pembenihan (Hatchery) atau dari alam.
Di alam terdapat dua macam golongan benih udang windu (benur) menurut ukurannya, yaitu :
a. Benih yang masih halus, yang disebut post larva.
Terdapat di tepi-tepi pantai. Hidupnya bersifat pelagis, yaitu berenang dekat permukaan air. Warnanya coklat kemerahan. Panjang 9-15 mm. Cucuk kepala lurus atau sedikit melengkung menyerupai karakter S dengan bentuk keseluruhan menyerupai jet. Ekornya membentang menyerupai kipas.
b. Benih yang sudah besar atau benih agresif yang disebut juvenil. 
Biasanya telah memasuki muara sungai atau terusan. Hidupnya bersifat benthis, yaitu suka berdiam bersahabat dasar perairan atau kadang menempel pada benda yang terendam air. Sungutnya berbelang-belang selangseling coklat dan putih atau putih dan hijau kebiruan. Badannya berwarna biru kehijauan atau kecoklatan hingga kehitaman. Pangkal kaki renang berbelang-belang kuning biru.

Cara Penangkapan Benur:
a. Benih yang halus ditangkap dengan memakai alat belabar dan seser. 
- Belabar ialah rangkaian memanjang dari ikatan-ikatan daun pisang kering, rumput-rumputan, merang, atau pun bahan-bahan lainnya. 
- Kegiatan penangkapan dilakukan apabila air pasang.
- Belabar dipasang tegak lurus pantai, dikaitkan pada dua buah patok, sehingga terayun-ayun di permukaan air pasang.

. Benur yang baik mempunyai tingkat kehidupan (Survival Rate/SR) yang tinggi, daya penyesuaian terhadap perubahan lingkungan yang tinggi, berwarna tegas/tidak pucat baik hitam maupun merah, aktif bergerak, sehat dan mempunyai alat badan yang lengkap. Uji kualitas benur sanggup dilakukan secara sederhana, yaitu letakkan sejumlah benur dalam wadah panci atau bejana yang diberi air, aduk air dengan cukup kencang selama 1-3 menit. Benur yang baik dan sehat akan tahan terhadap adukan tersebut dengan berenang melawan arus putaran air, dan sehabis arus berhenti, benur tetap aktif bergerak.
- Atau hanya diikatkan pada patok di salah satu ujungnya, sedang ujung yang lain ditarik oleh si penyeser sambil dilingkarkan mendekati ujung yang terikat. Setelah bulat cukup kecil, penyeseran dilakukan di sekitar belabar.

b. Benih agresif ditangkapi dengan alat seser pula dengan cara langsung diseser atau dengan alat bantu rumpon-rumpon yang dibentuk dari ranting pohon yang ditancapkan ke dasar perairan. Penyeseran dilakukan di sekitar rumpon.

Pembenihan secara alami dilakukan dengan cara mengalirkan air bahari ke dalam tambak. Biasanya dilakukan oleh petambak tradisional. Benih udang/benur yang didapat dari pembibitan haruslah benur yang bermutu baik. Adapun sifat dan ciri benur yang bermutu baik yang didapat dari daerah pembibitan adalah:
a. Umur dan ukuran benur harus seragam.
b. Bila dikejutkan benur sehat akan melentik.
c. Benur berwarna tidak pucat.
d. Badan benur tidak bengkok dan tidak cacat.

2) Perlakuan dan Perawatan Benih
a. Cara pemeliharaan dengan sistem kolam terpisah
Pemeliharaan larva yang baik ialah dengan sistem kolam terpisah, yaitu kolam diatomae, kolam induk, dan kolam larva dipisahkan.

- Kolam Diatomae
Diatomae untuk masakan larva udang yang merupakan hasil pemupukan ialah spesies Chaetoceros, Skeletonema dan Tetraselmis di dalam kolam volume 1000-2000 liter. Spesies diatomae yang agak besar diberikan kepada larva periode mysis, walaupun lebih menyukai zooplankton.

- Kolam Induk
Kolam yang berukuran 500 liter ini berisi induk udang yang mengandung telur yang diperoleh dari laut/nelayan. Telur biasanya keluar pada malam hari. Telur yang sudah dibuahi dan sudah menetas menjadi nauplius, dipindahkan.

- Kolam Larva
Kolam larva berukuran 2.000-80.000 liter. Artemia/zooplankton diambil dari kolam diatomae dan diberikan kepada larva udang mysis dan post larva (PL5-PL6).
Artemia kering dan udang kering diberikan kepada larva periode zoa sampai (PL6). Larva periode PL5-PL6 dipindah ke petak buyaran dengan kepadatan 32-1000 ekor/m2, yang setiap kalidiberi makan artemia atau masakan buatan, lalu PL20-PL30 benur sanggup dijual atau ditebar ke dalam tambak.

b. Cara Pengipukan/pendederan benur di petak pengipukan
- Petak pendederan benur merupakan sebagian dari petak pembesaran udang (± 10% dari luas petak pembesaran) yang terletak di salah satu sudutnya dengan kedalaman 30-50 cm, suhu 26-31derajat C dan kadar garam 5-25 permil.
- Petak terbuat dari daun kelapa atau daun nipah, supaya benur yang masih lemah terlindung dari terik matahari atau hujan. 
- Benih yang gres datang, diaklitimasikan dulu. Benih dimasukkan dalam bak plastik atau kolam kayu yang diisi air yang kadar garam dan suhunya hampir sama dengan keadaan selama pengangkutan. Kemudian secara berangsur-angsur air tersebut dikeluarkan dan diganti dengan
air dari petak pendederan.
- Kepadatan pada petak Ini 1000-3000 ekor. Pakan yang diberikan berupa adonan telur ayam rebus dan daging udang atau ikan yang dihaluskan.
- Pakan aksesori berupa pellet udang yang dihaluskan. Pemberian pelet dilakukan sebanyak 10-20 % kali jumlah berat benih udang per hari dan diberikan pada sore hari. Berat benih halus ± 0,003 gram dan berat benih agresif ± 0,5-0,8 g.
- Pellet sanggup terbuat dari tepung rebon 40%, dedak halus 20 %, bungkil kelapa 20 %, dan tepung kanji 20%. 
- Pakan yang dipe rlukan: secangkir pakan untuk petak pengipukan/pendederan seluas 100 m2 atau untuk 100.000 ekor benur dan diberikan 3-4 kali sehari.

c. Cara Pengipukan di dalam Hapa
- Hapa ialah kotak yang dibentuk dari jaring nilon dengan mata jaring 3-5 mm supaya benur tidak sanggup lolos.
- Hapa dipasang terendam dan tidak menyentuh dasar tambak di dalam petak-petak tambak yang pergantian airnya gampang dilakukan, dengan cara mengikatnya pada tiang-tiang yang ditancamkan di dasar petak tambak itu. Beberapa buah hapa sanggup dipasang berderet-deret pada suatu petak tambak.
- Ukuran hapa sanggup diadaptasi dengan kehendak, contohnya panjang 4-6 m, lebar 1-1,5 m, tinggi 0,5-1 m. 
- Kepadatan benur di dalam hapa 500-1000 ekor/m2.
- Pakan benur sanggup berupa kelekap atau lumut-lumut dari petakan tambak di sekitarnya. Dapat juga diberi pakan buatan berupa pelet udang yang dihancurkan dulu menjadi serbuk.
- Lama pemeliharaan benur dalam ipukan 2-4 minggu, sampai panjangnya 3-5 cm dengan persentase hidup 70-90%.
- Jaring sebagai dinding hapa harus dibersihkan seminggu sekali. 
- Hapa sangat mempunyai kegunaan bagi petani tambak, yaitu untuk daerah aklitimasi benur, atau sewaktu-waktu dipergunakan menampung ikan atau udang yang dikehendaki supaya tetap hidup.

d. Cara pengangkutan:
Pengangkutan memakai kantong plastik:
- Kantong plastik yang berukuran panjang 40 cm, lebar 35 cm, dan tebal ,008 mm, diisi air 1/3 bab dan diisi benih 1000 ekor.
- Kantong plastik diberi zat asam hingga menggelembung dan diikat dengan tali.
- Kantong plastik tersebut dimasukkan dalam kotak kardus yang diberi styrofore foam sebagai penahan panas dan kantong plastik kecil yang berisi pecahan-pecahan es kecil yang jumlahnya 10% dari berat airnya.
- Benih sanggup diangkut pada suhu 27-30 derajat C selama 10 jam perjalanan dengan angka maut 10-20%.

Pengangkutan dengan memakai jerigen plastik:
- Jerigen yang dipakai yang berukuran 20 liter.
- Jerigen diisi air setengah bagiannya dan sebagian lagi diisi zat asam bertekanan lebih.
- Jumlah benih yang sanggup diangkut antara 500-700 ekor/liter. Selama 6-8 jam perjalanan, angka kematiannya sekitar 6%.
- Dalam perjalanan jerigen harus ditidurkan, supaya permukaannya menjadi luas, sehingga benurnya tidak bertumpuk.
- Untuk menurunkan suhunya sanggup memakai es batu.

e. Waktu Penebaran Benur
Sebaiknya benur ditebar di tambak pada waktu yang teduh

Cara Budidaya Udang Windu

Cara Budidaya Udang Windu



I. Pendahuluan
Udang merupakan jenis ikan konsumsi air payau, tubuh beruas berjumlah 13 (5 ruas kepala dan 8 ruas dada) dan seluruh tubuh ditutupi oleh kerangka luar yang disebut eksosketelon. Umumnya udang yang terdapat di pasaran sebagian besar terdiri dari udang laut. Hanya sebagian kecil saja yang terdiri dari udang air tawar, terutama di tempat sekitar sungai besar dan rawa akrab pantai. Udang air tawar pada umumnya termasuk dalam keluarga Palaemonidae, sehingga para hebat sering menyebutnya sebagai kelompok udang palaemonid. Udang laut, terutama dari keluarga Penaeidae, yang bisa disebut udang penaeid oleh para ahli.

Udang merupakan salah satu materi masakan sumber protein hewani yang bermutu tinggi. Bagi Indonesia udang merupakan primadona ekspor non migas. Permintaan konsumen dunia terhadap udang rata‐rata naik 11,5% per tahun. Walaupun masih banyak kendala, namun sampai ketika ini negara produsen udang yang menjadi pesaing gres ekspor udang Indonesia terus bermunculan. Budidaya udang windu di Indonesia dimulai pada awal tahun 1980-an, dan mencapai puncak produksi pada tahun 1985-1995. Sehingga pada kurun waktu tersebut udang windu merupakan penghasil devisa terbesar pada produk perikanan. Selepas tahun 1995

JENIS
Klasifikasi udang yakni sebagai berikut:
Klas : Crustacea (binatang berkulit keras)
Sub‐klas : Malacostraca (udang‐udangan tingkat tinggi)
Superordo : Eucarida
Ordo : Decapoda (binatang berkaki sepuluh)
Sub‐ordo : Natantia (kaki dipakai untuk berenang)
Famili : Palaemonidae, Penaeidae


MANFAAT
!) Udang merupakan materi masakan yang mengandung protein tinggi, yaitu 21%, dan rendah kolesterol, lantaran kandungan lemaknya hanya 0,2%. Kandungan vitaminnya dalam 100 gram materi yakni vitamin A 60 SI/100; dan vitamin B1 0,01 mg. Sedangkan kandungan mineral yang penting adalah zat kapur dan fosfor, masing-masing 136 mg dan 170 mg per 100 gram bahan.
2) Udang sanggup diolah dengan beberapa cara, ibarat beku, kering, kaleng, terasi, krupuk, dll. 3) Limbah pengolahan udang yang berupa jengger (daging di pangkal kepala) dapat dimanfaatkan untuk menciptakan pasta udang dan hidrolisat protein.
4) Limbah yang berupa kepala dan kaki udang sanggup dibentuk tepung udang, sebagai sumber kolesterol bagi pakan udang budidaya.
5) Limbah yang berupa kulit udang mengandung chitin 25% dan di negara maju sudah sanggup dimanfaatkan dalam industri farmasi, kosmetik, bioteknologi, tekstil, kertas, pangan, dll.
6) Chitosan yang terdapat dalam kepala udang sanggup dimanfaatkan dalam industri kain, lantaran tahan api dan sanggup menambah kekuatan zat pewarna dengan sifatnya yang tidak gampang larut dalam air.


II. Teknis Budidaya
Budidaya udang windu mencakup beberapa faktor, yaitu :
2.1. Syarat Teknis 
- Lokasi yang cocok untuk tambak udang yaitu pada tempat pantai yang memiliki tanah bertekstur liat atau liat berpasir yang gampang dipadatkan sehingga bisa menahan air dan tidak gampang pecah.
- Air yang baik yaitu air payau dengan salinitas 0-33 ppt dengan suhu optimal 26 - 300C dan bebas dari pencemaran materi kimia berbahaya.
- Mempunyai akses air masuk/inlet dan akses air keluar/outlet yang terpisah.
- Praktis mendapat sarana produksi yaitu benur, pakan, pupuk , obat-obatan dan lain-lain.
- Pada tambak yang intensif harus tersedia pemikiran listrik dari PLN atau memiliki Generator sendiri.

2.2. Tipe Budidaya.
Berdasarkan letak, biaya dan operasi pelaksanaannya, tipe budidaya dibedakan menjadi :
- Tambak Ekstensif atau tradisional.
Petakan tambak biasanya di lahan pasang surut yang umumnya berupa rawa bakau. Ukuran dan bentuk petakan tidak teratur, belum meggunakan pupuk dan obat-obatan dan aktivitas pakan tidak teratur.
- Tambak Semi Intensif.
Lokasi tambak sudah pada tempat terbuka, bentuk petakan teratur tetapi masih berupa petakan yang luas (1-3 ha/petakan), padat penebaran masih rendah, penggunaan pakan buatan masih sedikit.
- Tambak Intensif.
Lokasi di tempat yang khusus untuk tambak dalam wilayah yang luas, ukuran petakan dibentuk kecil untuk efisiensi pengelolaan air dan pengawasan udang, padat tebar tinggi, sudah menggunakan kincir, serta aktivitas pakan yang baik.

2.3. Benur / BIBIT

2.4. Pengolahan Lahan
Pengolahan lahan, mencakup :
- Pengangkatan lumpur. Setiap budidaya niscaya meninggalkan sisa budidaya yang berupa lumpur organik dari sisa pakan, kotoran udang dan dari udang yang mati. Kotoran tersebut harus dikeluarkan lantaran bersifat racun yang membahayakan udang. Pengeluaran lumpur sanggup dilakukan dengan cara mekanis menggunakan cangkul atau penyedotan dengan pompa air/alkon.
- Pembalikan Tanah. Tanah di dasar tambak perlu dibalik dengan cara dibajak atau dicangkul untuk membebaskan gas-gas beracun (H2S dan Amoniak) yang terikat pada pertikel tanah, untuk menggemburkan tanah dan membunuh bibit panyakit lantaran terkena sinar matahari/ultra violet.
- Pengapuran. Bertujuan untuk menetralkan keasaman tanah dan membunuh bibit-bibit penyakit. Dilakukan dengan kapur Zeolit dan Dolomit dengan takaran masing-masing 1 ton/ha.
- Pengeringan. Setelah tanah dikapur, biarkan sampai tanah menjadi kering dan pecah-pecah, untuk membunuh bibit penyakit.
- Perlakuan pupuk TON ( Tambak Organik Nusantara ). Untuk mengembalikan kesuburan lahan serta mempercepat pertumbuhan pakan alami/plankton dan menetralkan senyawa beracun, lahan perlu diberi perlakuan TON dengan takaran 5 botol/ha untuk tambak yang masih baik atau masih gres dan 10 botol TON untuk areal tambak yang sudah rusak. Caranya masukkan sejumlah TON ke dalam air, kemudian aduk sampai larut. Siramkan secara merata ke seluruh areal lahan tambak.
2.5. Pemasukan Air
Setelah dibiarkan 3 hari, air dimasukkan ke tambak. Pemasukan air yang pertama setinggi 10-25 cm dan biarkan beberapa hari, untuk memberi kesempatan bibit-bibit plankton tumbuh sesudah dipupuk dengan TON. Setelah itu air dimasukkan sampai minimal 80 cm. Perlakuan Saponen bisa dilakukan untuk membunuh ikan yang masuk ke tambak. Untuk menyuburkan plankton sebelum benur ditebar, air dikapur dengan Dolomit atau Zeolit dengan takaran 600 kg/ha.

2.6. Penebaran Benur.
Tebar benur dilakukan sesudah air jadi, yaitu sesudah plankton tumbuh yang ditandai dengan kecerahan air kurang lebih 30-40 cm. Penebaran benur dilakukan dengan hati-hati, lantaran benur masih lemah dan gampang stress pada lingkungan yang baru. Tahap penebaran benur yakni :
- Adaptasi suhu. Plastik wadah benur direndam selama 15 30 menit, semoga terjadi pembiasaan suhu antara air di kolam dan di dalam plastik.
- Adaptasi udara. Plastik dibuka dan dilipat pada potongan ujungnya. Biarkan terbuka dan terapung selama 15 30 menit semoga terjadi pertukaran udara dari udara bebas dengan udara dalam air di plastik.
- Adaptasi kadar garam/salinitas. Dilakukan dengan cara memercikkan air tambak ke dalam plastik selama 10 menit. Tujuannya semoga terjadi percampuran air yang berbeda salinitasnya, sehingga benur sanggup menyesuaikan dengan salinitas air tambak.
- Pengeluaran benur. Dilakukan dengan memasukkan sebagian ujung plastik ke air tambak. Biarkan benur keluar sendiri ke air tambak. Sisa benur yang tidak keluar sendiri, sanggup dimasukkan ke tambak dengan hati-hati/perlahan.

2.7. Pemeliharaan.
Pada awal budidaya, sebaiknya di tempat penebaran benur disekat dengan waring atau hapa, untuk memudahkan proteksi pakan. Sekat tersebut sanggup diperluas sesuai dengan perkembangan udang, sesudah 1 ahad sekat sanggup dibuka. Pada bulan pertama yang diperhatikan kualitas air harus selalu stabil. Penambahan atau pergantian air dilakukan dengan hati-hati lantaran udang masih rentan terhadap perubahan kondisi air yang drastis. Untuk menjaga kestabilan air, setiap penambahan air gres diberi perlakuan TON dengan takaran 1 - 2 botol TON/ha untuk menumbuhkan dan menyuburkan plankton serta menetralkan bahan-bahan beracun dari luar tambak.
Mulai umur 30 hari dilakukan sampling untuk mengetahui pekembanghan udang melalui pertambahan berat udang. Udang yang normal pada umur 30 hari sudah mencapai size (jumlah udang/kg) 250-300. Untuk selanjutnya sampling dilakukan tiap 7-10 hari sekali. Produksi materi organik terlarut yang berasa dari kotoran dan sisa pakan sudah cukup tinggi, oleh lantaran itu sebaiknya air diberi perlakuan kapur Zeolit setiap beberapa hari sekali dengan takaran 400 kg/ha. Pada setiap pergantian atau penambahan air gres tetap diberi perlakuan TON.
Mulai umur 60 hari ke atas, yang harus diperhatikan yakni administrasi kualitas air dan kontrol terhadap kondisi udang. Setiap menunjukkkan kondisi air yang buruk (ditandai dengan warna keruh, kecerahan rendah) secepatnya dilakukan pergantian air dan perlakuan TON 1-2 botol/ha. Jika konsentrasi materi organik dalam tambak yang semakin tinggi, mengakibatkan kualitas air/lingkungan hidup udang juga semakin menurun, karenanya udang gampang mengalami stres, yang ditandai dengan tidak mau makan, kotor dan membisu di sudut-sudut tambak, yang sanggup mengakibatkan terjadinya kanibalisme.

2.8. Panen.
Udang dipanen disebabkan lantaran tercapainya bobot panen (panen normal) dan lantaran terjangkit penyakit (panen emergency). Panen normal biasanya dilakukan pada umur kurang lebih 120 hari, dengan size normal rata-rata 40 - 50. Sedang panen emergency dilakukan kalau udang terjangkit penyakit yang ganas dalam skala luas (misalnya SEMBV/bintik putih). Karena kalau tidak segera dipanen, udang akan habis/mati.
Udang yang dipanen dengan syarat mutu yang baik yakni yang berukuran besar, kulit keras, bersih, licin, bersinar, alat tubuh lengkap, masih hidup dan segar. Penangkapan udang pada ketika panen sanggup dilakukan dengan jala tebar atau jala tarik dan diambil dengan tangan. Saat panen yang baik yaitu malam atau dini hari, semoga udang tidak terkena panas sinar matahari sehingga udang yang sudah mati tidak cepat menjadi merah/rusak.

III. Pakan Udang.
Pakan udang ada dua macam, yaitu pakan alami yang terdiri dari plankton, siput-siput kecil, cacing kecil, anak serangga dan detritus (sisa binatang dan flora yang membusuk). Pakan yang lain yakni pakan buatan berupa pelet. Pada budidaya yang semi intensif apalagi intensif, pakan buatan sangat diperlukan. Karena dengan padat penebaran yang tinggi, pakan alami yang ada tidak akan cukup yang mengakibatkan pertumbuhan udang terhambat dan akan timbul sifat kanibalisme udang.
Pelet udang dibedakan dengan penomoran yang berbeda sesuai dengan pertumbuhan udang yang normal.
a. Umur 1-10 hari pakan 01
b. Umur 11-15 hari adonan 01 dengan 02
c. Umur 16-30 hari pakan 02
d. Umur 30-35 adonan 02 dengan 03
e. Umur 36-50 hari pakan 03
f. Umur 51-55 adonan 03 dengan 04 atau 04S
(jika menggunakan 04S, diberikan sampai umur 70 hari).
g. Umur 55 sampai panen pakan 04, kalau pada umur 85 hari size rata-rata mencapai 50, dipakai pakan 05 sampai panen.
Kebutuhan pakan awal untuk setiap 100.000 ekor yakni 1 kg, selanjutnya tiap 7 hari sekali ditambah 1 kg sampai umur 30 hari. Mulai umur tersebut dilakukan cek ancho dengan jumlah pakan di ancho 10% dari pakan yang diberikan. Waktu angkat ancho untuk size 1000-166 yakni 3 jam, size 166-66 yakni 2,5 jam, size 66-40 yakni 2,5 jam dan kurang dari 40 yakni 1,5 jam dari pemberian.
Untuk meningkatkan pertumbuhan udang, perlu penambahan nutrisi lengkap dalam pakan. Untuk itu, pakan harus dicampur dengan POC NASA yang mengandung mineral-mineral penting, protein, lemak dan vitamin dengan takaran 5 cc/kg pakan untuk umur dibwah 60 hari dan sesudah itu 10 cc/kg pakan sampai panen.

IV. Penyakit.

Penyakit Vibriosis Pada Udang

Penyakit Vibriosis Pada Udang

Penyakit Vibriosis pada Udang
Penyebab : Vibrio harveyiiV. alginolyticusV. parahaemolyticus. dll.

Bio – Ekologi Patogen
 Vibriosis pada larva udang umumnya sebagai penginfeksi sekunder terutama pada ketika dalam  Penyakit Vibriosis pada Udang• Vibriosis pada larva udang umumnya sebagai penginfeksi sekunder terutama pada ketika dalam keadaan stress dan lemah.
• Infeksi basil ini biasanya berkaitan dengan kondisi stress akibat: kepadatan tinggi, malnutrisi, penanganan yang kurang baik. bisul parasit, materi organik tinggi, oksigen rendah. kualitas air yang buruk. fluktuasi suhu air yang ekstrim. dll.
• Serangan bersifat akut, dan apabila kondisi lingkungan terus merosot, janjkematian yang ditimbulkannya dapat mencapai 100%. terutama pada stadia post larva atau juvenil.

Gejala klinis :
• Tubuh udang nampak kusam dan kotor.
• Nafsu makan menurun, kerusakan pada kaki dan insang, atau insang berwarna kecoklatan.
• Jenis basil Vibrio spp. yang berpendar umumnya menyerang larva udang dan penyakitnya disebut penyak Vibriosis pada larva udang umumnya sebagai penginfeksi sekunder terutama pada ketika dalam  Penyakit Vibriosis pada Udangit udang berpendar (luminescent vibriosis).
• Udang yang terjangkit mengatakan tanda-tanda nekrosis, kondisi badan lemah, berenang lambat, nafsu makan hilang, bercak merah (red discoloration) pada pleopod dan abdominal serta pada malam hari terlihat menyala
• Udang yang terkena vibriosis akan mengatakan pecahan kaki renang (pleopoda) dan kaki jalan (pereiopoda) mengatakan melanisasi.
• Udang yang sekarat sering berenang ke permukaan atau pinggir pematang tambak.

Diagnosa :
• Isolasi dan identifikasi basil melalui uji bio-kimia.

Pengendalian :
• Desinfeksi sarana budidaya sebelum dan selama proses pemeliharaan udang
• Pemberian unsur immunostimulan (misalnya penambahan
vitamin C pada pakan) secara rutin selama pemeliharaan
• Menghindari terjadinya stress (fisik, kimia, biologi)
• Pengelolaan kesehatan udang secara terpadu

sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Direktorat Kesehatan ikan dan Lingkungan, 2010
budidaya ikan Vibriosis pada larva udang umumnya sebagai penginfeksi sekunder terutama pada ketika dalam  Penyakit Vibriosis pada Udang