Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Kolaborasi Kebun Sawit Dengan Ternak Sapi

Kolaborasi Kebun Sawit Dengan Ternak Sapi

Dipublikasikan tanggal 2 Agt 2018

Pemanfaatan lahan sawit sebagai lokasi ternak sapi banyak manfaat yang di hasilkan, terutama lahan yang luas, pakan ternak cukup tersedia alasannya yaitu rumput liar yang tumbuh di bawah pohon , alasannya yaitu itu dapat di ambil dan di manfaatkan sebagai suplai masakan bagi sapi – sapi di kebun kelapa sawit.

Manfaat lainnya yaitu kotoran ternak dari sapi-sapi tersebut secara otomatis sebagai pupuk sangkar bagi tanaman dengan demikian akan mengurangi  pembelian pupuk an organik atau pupuk pabrikan.

Berikut link videonya:

https://youtu.be/MJmXzhW9bmw

Cara Budidaya Jamur Tiram

Cara Budidaya Jamur Tiram


Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) merupakan jenis jamur pangan dari kelompok Basidiomycota dan termasuk kelas Homobasidiomycetes dengan ciri-ciri umum badan buah berwarna putih hingga krem dan tudungnya berbentuk setengah bundar menyerupai cangkang tiram dengan penggalan tengah agak cekung. Jamur tiram masih satu kerabat dengan Pleurotus eryngii dan sering dikenal dengan sebutan King Oyster Mushroom. Jamur ini merupakan salah satu jenis jamur yang cukup terkenal di tengah masyarakat Indonesia, selain Jenis jamur lainnya menyerupai jamur merang, jamur kuping dan jamur shitake. Pada umumnya jamur tiram dikonsumsi oleh masyarakat sebagai sayuran untuk kebutuhan sehari-hari. Jamur tiram yaitu jenis jamur kayu yang mempunyai kandungan nutrisi lebih tinggi dibandingkan dengan jenis jamur kayu lainnya. Jamur tiram mengandung protein, lemak, fospor, besi, thiamin dan riboflavin lebih tinggi dibandingkan dengan jenis jamur lain. Jamur tiram mengandung 18 macam asam amino yang diharapkan oleh badan insan dan tidak mengandung kolesterol
Budidaya jamur tiram mempunyai beberapa keunggulan dan akomodasi dalam proses budidayanya sehingga sanggup dikelola sebagai perjuangan sampingan ataupun perjuangan hemat skala kecil, menengah dan besar (Industri). Negara-negara yang telah berbagi budidaya jamur tiram sebagai agrobisnis andalan dan unggulan yaitu Cina, belanda, Spanyol, Prancis, Belgia dan Thailand. Negara-negara tersebut trermasuk produsen jamur terbesar di dunia.

Jika anda tertarik menekuni perjuangan budidaya jamur tiram ini, hal penting yang harus dipenuhi yaitu membuat dan menjaga kondisi lingkungan pemeliharaan (cultivation) yang memenuhi syarat pertumbuhan jamur tiram. Hal lain yang penting yaitu menjaga lingkungan pertumbuhan jamur tiram terbebas dari mikroba atau tumbuhan pengganggu lainnya. Tidak jarang pembudidaya jamur tiram mendapati baglog(kantong untuk media jamur tiram) ditumbuhi tumbuhan lain selain jamur tiram, hal ini disebabkan proses sterilisasi yang kurang baik dan lingkungan yang tidak kondusif.
Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk melakuka budidaya jamur tiram ini, tahapan pemeliharaan atau penanaman jamur tiram mencakup persiapan sarana produksi dan tahapan budidaya jamur tiram. Tahapan ini merupakan proses budidaya jamur tiram dari mulai pembuatan media hingga proses pemanenan jamur tiram. Jika anda tidak ingin repot menyemai benih, anda sanggup membeli baglog yang sudah siap dengan benih jamur tiram yang sudah siap dibudidayakan.

Persiapan Budidaya Jamur Tiram

Bangunan/Ruangan Budidaya Jamur Tiram
Pada dasarnya bangunan sanggup memanfaatkan ruangan yang ada dalm rumah, biasanya bangunan untuk budidaya Jamur Tiram bangunan jamur terdiri dari beberapa ruangan, diantaranya:

1. Ruang persiapan
Ruang persiapan yaitu ruangan yang berfungsi untuk melaksanakan aktivitas Pengayakan, Pencampuran, Pewadahan, dan Sterilisasi.


2. Ruang Inokulasi
Ruang Inokulasi yaitu ruangan yang berfungsi untuk menanam bibit pada media tanam, ruang ini harus gampang dibersihkan, tidak banyak ventilasi untuk menghindari kontaminasi (adanya mikroba lain).


3. Ruang Inkubasi
Ruangan ini mempunyai fungsi untuk menumbuhkan miselium jamur pada media tanam yang sudah di inokulasi (Spawning). Kondisi ruangan diatur pada suhu 22 – 28 derajat C dengan kelembaban 60% – 80%, Ruangan ini dilengkapi dengan rak-rak bambu untuk menempatkan media tanam dalam kantong plastic (baglog) yang sudah di inokulasi.


4.Ruang Penanaman
Ruang penanaman (growing) dipakai untuk menumbuhkan badan buah jamur. Ruangan ini dilengkapi juga dengan rak-rak penanaman dan alat penyemprot/pengabutan. Pengabutan berfungsi untuk menyiram dan mengatur suhu udara pada kondisi optimal 16 – 22 derajat C dengan kelembaban 80 – 90%.

Peralatan Dan Bahan Budidaya Jamur Tiram


Peralatan yang dipakai pada budidaya jamur diantaranya, Mixer, cangkul, sekop, filler, botol, boiler, gerobak dorong, sendok bibit, centong.

Bahan-bahan yang dipakai dalam budidaya jamur tiram yaitu Serbuk kayu, bekatul (dedak), kapur (CaCO3), gips (CaSO4), tepung jagung (biji-bijan), glukosa, kantong plastik, karet, kapas, cincin plastik.

Proses dan Teknik Budidaya Jamur Tiram


Dalam melaksanakan Budidaya Jamur Tiram ada beberapa proses dan aktivitas yang dilaksanakan antara lain:

1. Persiapan Bahan

Bahan yang harus dipersiapkan diantaranya serbuk gergaji, bekatul, kapur, gips, tepung jagung, dan glukosa.


2. Pengayakan
Serbuk kayu yang diperoleh dari penggergajian mempunyai tingkat keseragaman yang kurang baik, hal ini berakibat tingkat pertumbuhan miselia kurang merata dan kurang baik. Mengatasi hal tersebut maka serbuk gergaji perlu di ayak. Ukuran ayakan sama dengan untuk mengayak pasir (ram ayam), pengayakan harus mempergunakan masker lantaran dalam serbuk gergaji banyak tercampur debu dan pasir


3. Pencampuran
Bahan-bahan yang telah ditimbang sesuai dengan kebutuhan dicampur dengan serbuk gergaji selanjutnya disiram dengan air sekitar 50 – 60 % atau kalau kita kepal serbuk tersebut menggumpal tapi tidak keluar air. Hal ini membuktikan kadar air sudah cukup.


4. Pengomposan
Pengomposan yaitu proses pelapukan materi yang dilakukan dengan cara membumbun adonan serbuk gergaji lalu menutupinya dengan plastic


5. Pembungkusan (Pembuatan Baglog)
Pembungkusan memakai plastik polipropilen (PP) dengan ukuran yang dibutuhkan. Cara membungkus yaitu dengan memasukkan media ke dalam plastik lalu dipukul/ditumbuk hingga padat dengan botol atau memakai filler (alat pemadat) lalu disimpan.


6. Sterilisasi
Sterilisasi dilakukan dengan mempergunakan alat sterilizer yang bertujuan menginaktifkan mikroba, bakteri, kapang, maupun khamir yang sanggup mengganggu pertumbuhan jamur yang ditanam. Sterilisasi dilakukan pada suhu 90 – 100 derajat C selama 12 jam.


7. Inokulasi (Pemberian Bibit)
Inokulasi yaitu aktivitas memasukan bibit jamur ke dalam media jamur yang telah disterilisasi. Baglog ditiriskan selama 1 malam sesudah sterilisasi, lalu kita ambil dan ditanami bibit diatasnya dengan mempergunakan sendok makan/sendok bibit sekitar + 3 sendok makan lalu diikat dengan karet dan ditutup dengan kapas. Bibit Jamur Tiram yang baik yaitu:
- Varitas unggul
- Umur bibit optimal 45 – 60 hari
- Warna bibit merata
- Tidak terkontaminasi


8. Inkubasi (masa pertumbuhan miselium) Jamur Tiram
Inkubasi Jamur Tiram dilakukan dengan cara menyimpan di ruangan inkubasi dengan kondisi tertentu. Inkubasi dilakukan hingga seluruh media berwarna putih merata, biasanya media akan tampak putih merata antara 40 – 60 hari.


Panen dilakukan sesudah pertumbuhan jamur mencapai tingkat yang optimal, pemanenan ini biasanya dilakukan 5 hari sesudah tumbuh calon jamur. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari untuk mempertahankan kesegarannya dan mempermudah pemasaran. (Galeriukm).

Cara Budidaya Anthurium

Cara Budidaya Anthurium


Tanaman hias secara garis besar dibagi menjadi dua kelompok utama yaitu tumbuhan taman (landscaped plant) dan tumbuhan penghias rumah (house plant). Di antara jenis tumbuhan hias yang banyak diminati ialah Anthurium. Anthurium merupakan tumbuhan orisinil dari kawasan tropis yang telah menyebar ke seluruh penjuru dunia. 
Anthurium ialah tumbuhan hias tropis, mempunyai daya tarik tinggi sebagai penghias ruangan, alasannya ialah bentuk daun dan bunganya yang indah, Anthurium yang berdaun indah ialah orisinil Indonesia, sedangkan yang untuk bunga potong berasal dari Eropa.
Di Indonesia tidak kurang terdapat 7 jenis anthurium, yaitu Anthurium cyrstalinum (kuping gajah), Anthurium pedatoradiatum (wali songo), Anthurium andreanum, Anthurium rafidooa, Anthurium hibridum (lidah gajah), Anthurium makrolobum dan Anthurium scherzerianum.

Anthurium termasuk keluarga Araceae yang mempunyai perakaran yang banyak, batang dan daun yang kokoh, serta bunga berbentuk ekor. Tanaman berdaun indah ini masih berkerabat dengan sejumlah tumbuhan hias terkenal semacam aglaonema, philodendron, keladi hias, dan alokasia. Dalam keluarga 
araceae
, anthurium ialah genus dengan jumlah jenis terbanyak. Diperkirakan ada sekitar 1000 jenis anggota marga anthurium.
 Anthurium, salah satu tumbuhan hias indoor yang mempunyai daya tarik tersendiri alasannya ialah bentuk daun dan bunganya unik. Ada dua macam anthurium, yaitu anthurium daun dan anthurium bunga. Anthurium daun dinikmati alasannya ialah keindahan daunnya sedangkan anthurium bunga alasannya ialah keindahan bunganya (Fatihagriculture, 2007). 
Di alam anthurium gampang tumbuh pada media batang pepohonan yang telah membusuk atau tumbuh di pepohonan dan bersifat epifit. Oleh risikonya pembudidayaan tumbuhan ini tidaklah sulit. 
Akar utama pada tumbuhan anthurium ialah rimpang (rhizoma) yang mempunyai akar adventif. Morfologi dan sifat akar perlu diketahui semoga sanggup memilih cara budidaya dan perawatan anthurium secara benar alasannya ialah akar berfungsi penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan (Lingga, 2007). Tanaman anthurium mempunyai dua macam bunga yaitu bunga jantan dan bunga betina. Bunga jantan ditandai oleh adanya benangsari, sedangkan bunga betina ditandai oleh adanya lendir. Biji diperoleh dengan menyilangkan bunga jantan dan bunga betina. Dengan menggunkan jentik, bunga sari diambil dan dioleskan hingga rata di penggalan lendir pada bunga betina (Tabloidgallery, 2007). 
 Meskipun pembudidayaan tumbuhan relatif gampang namun cara pembudidayaan yang baik perlu dikuasai semoga tumbuhan yang dibudidayakan sanggup tumbuh baik sehingga mampu menampilkan keindahan yang prima. Berikut ini perawatan standar untuk anthurium : 

Media tanam
  Anthurium bisa tumbuh di media tanah merah sekalipun. Tapi akan lebih baik bila media tanamnya porus, berupa gabungan pakis, sekam bakar, sekam biasa, dan bisa ditambah pasir malang. Kalau akarnya bisa tumbuh bagus, tumbuhan juga akan baik. Media tanam dan wadah (pot) wajib bersirkulasi udara baik. Untuk menghindari jamur yang sering menyerang anthurium, media tanam direndam dalam larutan antijamur (Fungisida), sebelum dipakai. Penggantian media dilakukan jikalau pot sudah tak bisa menampung pertumbuhan akar. Caranya, tumbuhan dipindahkan ke pot lebih besar berikut medianya, kemudian tambahkan media hingga penuh.  
Anthurium sanggup diperbanyak dengan 2 cara, yaitu generatif (biji) dan vegetatif (stek).
1. Perbanyakan dengan cara generatif (biji)
Tanaman anthurium mempunyai 2 macam bunga (Gambar 1) yaitu bunga jantan dan bunga betina. Bunga jantan ditandai oleh adanya benang sari, sedangkan bunga betina ditandai oleh adanya lendir. Biji diperoleh dengan menyilangkan bunga jantan dan bunga betina.
Dengan memakai jentik, bunga sari diambil dan dioleskan hingga rata di penggalan lendir pada bunga betina. Sekitar 2 bulan kemudian, bunga yang dihasilkan sudah masak, di dalamnya terdapat banyak biji anthurium. Biji-biji tersebut di kupas, dicuci hingga higienis dan diangin-anginkan, kemudian ditabur  pada medium tanah halus. Persemaian ditempatkan pada kondisi lembab dan selalu disiram.
2. Perbanyakan dengan cara vegetatif (stek)
Ada 2 cara perbanyakan secara vegetatif, yaitu stek batang dan stek mata tunas. Cara perbanyakan dengan stek batang ialah memotong penggalan atas tumbuhan (batang) dengan menyertakan 1 – 3 akar, penggalan atas tumbuhan ‘yang telah dipotong kemudian ditanam, pada medium tumbuh yang telah disiapkan. Sebaliknya perbanyakan dengan mata tunas ialah mengambil satu mata pada cabang, kemudian menanam mata tunas pada medium tumbuh yang telah disiapkan.

Lokasi penempatan
  Flora berdaun indah ini tidak menyukai sinar matahari penuh. Pertumbuhan optimal akan berlangsung di tempat yang relatif teduh. Untuk mengatur intensitas cahaya bisa memakai paranet 65% rangkap dua. Piranti itu ber!ungsi untuk melindungi tumbuhan dari sengatan sinar matahari langsung. Anthurium bisa juga ditempatkan di teras rumah yang tidak terkena sinar matahari langsung. Disarankan rutin memutar tumbuhan supaya pertumbuhan seimbang di setiap sisi.  
Pemupukan dan penyiraman
  pengaruh pemupukan tidak terlalu dahsyat. Namun pemupukan tetap harus dilakukan semoga anthurium cukup mendapat suplai hara. Jatah pupuk Oecastar diberikannya setiap 3 bulan sekali. Setelah itu bisa diberikan pupuk berbarengan dikala penyiraman, semisal Growmore. Frekuensinya bisa setiap ahad atau setiap bulan dengan takaran rendah. Setiap ahad diberikan B1 yang disemprotkan ke daun supaya tetap sehat. Penyiraman tergantung musim. Saat ekspresi dominan kemarau disiram setiap hari sekali. Sementara pada ekspresi dominan hujan, tak perlu disiram jikalau anthurium sudah terkena air hujan

Berdasarkan kegunaannya, medium tumbuh dibagi menjadi 2 macam, yaitu medium tumbuh untuk persemaian dan untuk tumbuhan dewasa. Medium tumbuh terdiri dari gabungan humus, pupuk sangkar dan pasir kali. Humus  atau tanah hutan dan pupuk sangkar yang sudah jadi di ayak dengan ukuran ayakan 1 cm, sedangkan pasir kali di ayak dengan ukuran ayakan 3 mm.
Humus, pupuk sangkar dan pasir kali yang telah di ayak, dicampur dengan perbandingan 5 : 5 : 2. Untuk persemaian, medium tumbuh perlu disterilkan dengan cara mengukus selama satu jam.

Untuk menanam bunga anthurium, sanggup digunakan pot tanah, pot plastik atau pot straso. Pot yang paling baik ialah pot tanah alasannya ialah mempunyai banyak pori-pori yang sanggup meresap udara dari luar pot. Apabila digunakan pot yang masih baru, pot perlu direndam dalam air selama 10 menit. Bagian bawah pot diberi pecahan genting/pot yang melengkung, kemudian di atasnya diberi pecahan watu merah setebal 1/4 tinggi pot. Medium tumbuh berupa gabungan humus, pupuk sangkar dan pasir kali dimasukkan dalam pot

Setelah tanam, tumbuhan dipelihara dengan menyiram 1 – 2 kali sehari. Daun yang sudah bau tanah atau rusak alasannya ialah hama dan penyakit, dipotong semoga tumbuhan tampak higienis dan menarik. Sebaiknya tumbuhan ini dipelihara di tempat teduh alasannya ialah tumbuhan tidak tahan sinar matahari langsung.


Cara Budidaya Jamur Merang

Cara Budidaya Jamur Merang



JAMUR, dalam sejarah telah dikenal sebagai makanan sekitar semenjak tiga ribu tahun yang lalu, dimana jamur menjadi makanan khusus buat raja Mesir yang kemudian bermetamorfosis makanan Istimewa bagi masyarakat umum alasannya yaitu rasanya yang enak. Di Cina, pemanfaatan jamur sebagai materi obat-obatan sudah dimulai semenjak dua ribu tahun silam.
Jamur merang merupakan jenis jamur yang pertama kali sanggup dibudidayakan secara komersial. Di Cina jamur merang mulai dibudidayakan semenjak pertengahan kurun 17, dan di Indonesia tumbuhan ini diperkirakan mulai dibudidayakan sekitar tahun 1950-an. Sebenarnya Jamur merang tidak kalah terkenal dengan Jamur Tiram. Jamur Merang telah banyak di konsumsi sebagian besar warga indonesia. memang jamur merang perospeknya kurang begitu menguntungkan dinadingkan dengan Budidaya Jamur tiram yang telah banyak dibudidayakan oleh banyak kalangan. Dengan sedikitnya para pembudidaya jamur merang ini tidak ada salahnya kita mencoba membudidayakannya, sebagai peluang perjuangan yang menguntungkan. Karena kini ini telah banyak di temuai banyak sekali jenis makanan yang dihasilkan dari jamur merang. Sebut saja sate jamur, jamur goreng tepung, sup jamur, pepes jamur, keripik jamur, dan banyak jenis makanan olahan lain dari jamur, kini menjadi daftar sajian utama di restoran-restoran yang menyediakan sajian khusus vegetarian. Di restoran dan rumah makan umum pun, sajian serbajamur kini semakin banyak ditemui. 
Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam Budidaya Jamur Merang (Jamur Jerami) merupakan serangkaian kegiatan, mulai dari seleksi kultur jamur, kompos, pemeliharaan atau perawatan pertumbuhan, dan pemanenan. 




Gambaran dasar dan hal yang harus disiapkan sebelum Berbudidaya Jamur Merang.
1. Lahan harus niscaya cukup luas (untuk satu kubung kawasan penanaman perlu +/- lahan 5×12 m)
2. kapasitas satu kubung untuk satu siklus tanam (+/-) satu bulan antara 300 s.d. 400 kg jamur. Idealnya bila kita pingin panen tidak terputus dan tenaga kerja sanggup efisien kita harus mempunyai paling tidak 6 s.d 8 kubung.
3. Lokasi harus bersahabat dengan materi baku, terutama Merang/ jerami / batang padi sisa panen padi
4. Sumber air harus cukup bagus.
5. Diusahakan jauh dari pemukiman warga, alasannya yaitu ada amis tidak sedap diantara proses vermentasi/ pembusukan jerami/merang.
6. Untuk proses sterilisasi dan penguapan ruang sebelum penyebaran bibit, dikala itu saya menghabiskan rata-rata 120 liter minyak tanah dalam waktu +/- 12Jam
7. Bahan baku lain yang harus diperhatikan limbah kapuk kapas (bukan kapas sintetis) alasannya yaitu konsumsinya cukup banyak juga setiap siklusnya.



I.        Pembuatan Kumbung
A.   Penentuan Lokasi :
Sketsa Kumbung Jamur Merang

1.    Sumber jerami
2.    Sumber air
3.    Jalan

B.   Persyaratan Kumbung :
  • Dinding dalam dan atas memakai plastik polyetilen.
  • Dinding luar memakai sterofoam.
  • Kumbung lebih baik ditempat
C.    Perbedaan kumbung :
  • Kumbung atas lancip : bila panas maka uap akan mengalir ke samping. Digunakan untuk kumbung yang mempunyai satu rak ditengah.
  • Kumbung atas datar    : uap air akan jatuh ketengah-tengah kumbung. Digunakan untuk kumbung yang mempunyai dua rak
II.         Media
1.    Jerami
2.    Kapur CaCO3
3.    Dedak
4.    Limbah kapas
a)   Jerami mengandung :
  • Lignin
  • Selulosa
  • Silicca
b)   Alternatif jerami   :
  • Alang-alang
  • Eceng gondok
  • Batang jagung
  • Kelaras pisang
c)    Alternatif limbah kapas :
  • Hampas sagu
  • Hampas tahu
  • Hampas tempe
  • Hampas kapuk 
III.        Pembuatan Kompos
1.    Lapisan atas               : kompos kapas
2.    Lapisan bawah           : kompos jerami

IV.       Memasukkan Kompos
1.    ±10 hari kompos jerami masuk kumbung, simpan setinggi ±40 cm/rak.
2.    Lapisi ± 0,5 cm kompos kapas yang telah dikompos selama 1 bulan.
3.    Pasteurisasi hingga suhu 70°C, pertahankan 4-5 jam.
4.    Penanaman dilakukan bila suhu < 40°C.

V.       Pasteurisasi / Steam
1.    Lantai kumbung dibersihkan.
2.    Peralatan untuk wadah penanaman bibit harus disertakan dalam pasteurisasi.
3.    Semua ruang tertutup.
4.    Drum pasteurisasi diisi penuh, salurkan pipa ke dalam kumbung.
5.    Setelah mencapai 70°C (biasanya sehabis 7-8 jam). Suhu dipertahankan selama 4-5 jam
6.    Penanaman bibit dilakukan sehabis istirahat 1 hari.
Catatan :   - bila penyeteaman tidak matang, maka jendela harus dibuka supaya amoniak keluar.
                   - bila penyeteman matang, maka jendela ditutup saja.



Cara Pembibitan Jamur Merang :
1. Cari jamur payung di peranian bibit jamur merang
2. Potong-potong jamur, payungnya saja kemudian masukkan dalam panci siramlah air hangat supaya steril
3. Aduk debu sekam, sekam mentah dan irisan jamur dicampur air higienis dengan banyak irisan 3/4 Kg. Tutup rapat pada kawasan teduh selama 2-4 hari
4. Setelah 2-4 hari dibuka tutupnya akan terlihat serabut benang putih menyerupai sarang laba-laba. Apabila tidak terlihat serabut putih berarti gagal.



VI.        Penanaman Bibit
1.    pH diusahakan mencapai 7 / netral.
2.    Peralatan untuk penanaman yang telah di pasteurisasi disiapkan untuk diisi bibit.
3.    Bibit log dihancurkan supaya lembut. ( 1 log untuk 1m2)
4.    Bibit ditabur pada 2/3 media dari tinggi media / tengahnya tidak di tabur.
5.    Bibit sempilan di tanam di bawah media gulungan sebanyak 2 kawasan tanam.
6.    Bisa juga dibentuk alas di tiang danditanami bibit.
Penebaran Bibit Jamur

7.    Hari I      : penanaman dilakukan sore hari.
8.    Hari II      : pertumbuhan miselium diperhatikan.
9.    Hari III     : -  Bila bibit telah keluar miselium, maka eksklusif disiram.
       -  Bila bibit belum tumbuh, maka penyiraman dilakukan hari ke 4.
       -  Penyiraman bibit dilakukan pada tengah hari ± pkl 13.00
10. Hari IV     : mulai hari ke 4, pintu & jendela dibuka antara pkl 06.00-06.15.
11. Hari V     : jendela dibuka 15°. Pintu di buka pkl 00.00 selama ½ jam.
12. Hari VI     : jendela di buka 30 °.
13. Hari VII    : jendela di buka 45°.
14. Hari VIII   : jendela di buka 60-90° / bila jamur tumbuh besar.
15. Panen selanjutnya jendela dibuka terus hingga selesai.


VII.        Pemeliharaan Media Budidaya
Jamur berumur 7 hari sehabis tanam

1.    Penyiraman dilakukan 3 atau 4 hari sehabis tanam.  Untuk mengubah masa vegetatif menjadi     masa generatif. Karena penyiraman dilakukan pada siang hari sehingga jamur menjadi stress dan mengubah fase tanam.
2.    Temperatur ruangan 34-36°C.
3.    Temperatur media 34- 38°C.
4.    Bila temperatur media mencapai 38°C atau  lebih maka akan tumbuh cendawan Monilia,
       tumbuh  antara hari ke V – VIII.


VIII.       Panen
1.   Ciri jamur siap tanam :
  • Bila masih ada tonjolan    , panen dilakukan keesokan harinya.
  • Bila bundar sudah merata    , jamur siap panen.
2.   Cara panen jamur :
  • Lebih baik tidak memakai kuku tangan, tetapi memakai pisau yang telah disterilkan.
  • Tinggalkan / sisakan sedikit pangkal buah jamur yang di panen.
  • Media dilarang terangkat.
3.  Penyebab menurunnya kualitas jamur merang (bercak-bercak):
  • Pasteurisasi tidak matang
  • Dedak tidak matang
4.  Penyebab jamur pecah :
  • Suhu terlalu tinggi
  • Terlambat waktu panen.
Semoga Bermanfaat.,.,.
Budidaya Tanaman Teh

Budidaya Tanaman Teh




PENGOLAHAN DAN JENIS MUTU TEH
Teh diperoleh dari pengolahan daun tumbuhan teh (Camellia sinensis L) dari familia Theaceae. Tanaman ini diperkirakan berasal dari kawasan pegunungan Himalaya dan daerah-daerah pegunungan yang berbatasan dengan Republik Rakyat Cina, India, dan Burma. Tanaman ini sanggup tumbuh subur di kawasan tropik dan subtropik dengan menuntut cukup sinar matahari dan hujan sepanjang tahun. Tanaman teh sanggup tumbuh hingga sekitar 6-9 m tinggi. Di perkebunan-perkebunan tumbuhan teh dipertahankan hanya hingga sekitar 1 m tinggi dengan pemengkaan secara berkala. Ini dilakukan untuk memudahkan pemetikan daun dan supaya diperoleh tunas-tunas dau teh yang cukup banyak.

Tanaman teh umumnya mulai sanggup dipetik daunnya secara menerus sehabis umur 5 tahun. Dengan pemeliharaan yang baik tumbuhan teh sanggup memberi hasil daun teh yang cukup besar selama 40 tahun. Kebun-kebun teh akhirnya perlu senantiasa memperoleh pemupukan secara teratur, bebas serangan hama penyakit tanaman, memperoleh pemangkasan secara baik, memperoleh curah hujan yang cukup. Kebun-kebun teh perlu diremajakan sehabis tumbuhan tehnya berumur 40 tahun ke atas.
Tanaman teh sanggup tumbuh subur di daerah-daerah dengan ketinggian 200-2.000 m di atas permukaan laut. Di daerah-daerah yang rendah umumnya tumbuhan teh kurang sanggup memberi hasil yang cukup tinggi. Tanaman teh menghendaki tanah yang dalam dan gampang menyerap air. Tanaman tidak tahan terhadap kekeringan serta menuntut curah hujan minimum 1.200 mm yang merata sepanjang tahun.
Hasil teh diperoleh dari daun-daun pucuk tumbuhan teh yang dipetik sekali dengan selang 7 hingga 14 hari, tergantung dari keadaan tumbuhan di masing-masing daerah. Cara pemetikan daun selain mensugesti jumlah hasil teh, juga sangat memilih mutu teh yang dihasilkannya. Dibedakan cara pemetikan halus (fine plucking) dan cara pewmetikan bernafsu (coarse plucking). Pemetikan daun hingga sekarang masih dilakukan oleh tenaga manusia, bahkan sebagian besar oleh tenaga-tenaga wanita. Untuk menghasilkan teh mutu baik perlu dilakukan pemetikan halus, yaitu: hanya memetik daun pucuk dan dua daun di bawahnya. Ada pula yang melaksanakan pemetikan medium, dengan juga memetik belahan halus dari daun ketiga di bawah daun pucuk. Pemetikan bernafsu sering pula dilakukan bebewrapa perkebunan (rakyat), yaitu: pemetikan daun pucuk dengan tiga atau lebih banyak daun di bawahnya, termasuk batangnya.
Perkebunan teh terpusat di dataran menengah dan tinggi di Pulau Jawa, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera Selatan. Pada tahun 1990 luas perkebunan teh di Indonesia 129.500 ha. Produksi teh pada tahun 1998 mencapai 136.109 ton. Klasifikasi botani tumbuhan teh ialah sebagai berikut:
Divisi          : Spermatopyta

Sub            : Angiospermae
Kelas         : Dicotyledonae
Keluarga    : Transtroemiaceae
Genus        : Camellia
Spesies      : Camellia sinensis L.

Varietas utama ialah varietas China, Asam dan Cambodia. Klon tawaran Balai Penelitian Perkebunan Gambung tahun 1878-1988 ialah Seri Gambung: Gmb 1, Gmb 2, Gmb 3 dan Gmb 4. Varitas lain berasal dari Jepang yang ditanam di perkebunan rakyat ibarat di Kebun Teh hijau Jepang di Garut.

MANFAAT TANAMAN
Daun teh ialah materi pembuat minuman teh yang terkenal di seluruh penjuru dunia. Air teh yang kita minum mengandung kafein, teofilin, vitamin A, B, C, zat yang tidak larut dalam air ibarat serat, protein dan pati serta zat yang larut di dalam air ibarat gula, asam amino dan mineral. Makara selain sebagai minuman, teh juga mempunyai nilai gizi. Disamping itu teh juga sanggup dijadikan obat yaitu sebagai antidotum pada keracunan oleh logam-logam berat dan alkaloida.
Daun teh barbau khan aromatik , rasanya agak sepet . Mengenai uraian makroskopiknya yaitu sebagai berikut:
  1. Helai daun sanggup dikatakan cukup tebal, kaku berbentuk sudip melebar hingga sudip memanjang, panjangnya tidak lebih dari 5 cm, bertangkai panjang
  2. Permukaan daun belahan atas mengkilat, pada daun muda permukaan bawahnya berambut sedang telah bau tanah menjadi licin
  3. Tepi daun bergerigi, agak tergulung ke bawah, berkelenjar yang khas dan terbenam
Kandungan zat pada daunnya 1%-4% kofeine, 7%-15% tanin dan sedikit minyak atsiri. Dalam penggunaan sebagai obat antidotum pada keracunan oleh logam-logam berat dan alkaloida, petiklah kuncup daun berikut 2-3 helai dau dibawahnya, digulung dan difermentasikan untuk kemudian diberikan pada penderita.

SYARAT PERTUMBUHAN
1. Iklim
  1. urah hujan sebaiknya tidak kurang dari 2.000 mm/tahun.
  2. Tanaman memerlukan matahari yang cerah. Tanaman teh tidak tahan kekeringan.
  3. Suhu udara harian tumbuhan teh ialah 13-25 derajat C.
  4. Kelembaban udara kurang dari 70%.
2. Media Tanaman
  1. Jenis tanah yang cocok untuk teh ialah Andosol, Regosol dan Latosol. Namun teh juga sanggup dibudidayakan di tanah Podsolik (Ultisol), Gley Humik, Litosol dan Aluvia. Teh menyukai tanah dengan lapisan atas yang tebal, struktur remah, berlempung hingga berdebu, gembur.
  2. Derajat keasaman tanah (pH) berkisar antara 4,5-6,0.
  3. Berdasarkan ketinggian tempat, kebun teh di Indonesia dibagi menjadi 2 daerh yaitu:(1) dataran rendah: hingga 800 m dpl; (2) dataran sedang: 800-1.200 m dpl; dan (3) dataran tinggi: lebih dari 1.200 meter dpl. Perbedaan ketinggian tempat menyebabkan perbedaan pertumbuhan dan kualitas teh.
3. Ketinggian Tempat
Tergantung dari klon, teh sanggup tumbuh di dataran rendah pada 100 m dpl hingga di ketinggian lebih dari 1.000 m dpl.

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
1. Pembibitan
Tanaman diperbanyak dengan biji atau stek daun. Dari segi produksi, sebaiknya tumbuhan diperbanyak dengan stek daun.
Persyaratan Benih/Bibit

a. Persyaratan benih
Diambil dari kebun biji, berupa biji jatuhan, tidak terjangkit kepik biji dan besar. Biji disimpan di dalam kaleng yang ditutup rapat dengan kelembaban 35-38% dan segera disemaikan sehabis dipungut.

  1. Perkecambahan dalam badengan
    1. Pasir setebal biji teh dihamparkan pada kotak papan 1 x 2 m.
    2. Taburkan benih di atas hamparan pasir.
    3. Hamparkan kembali pasir di atas benih.
    4. Lakukan kembali langkah b dan c hingga didapat tumpukan pasir-benih sebanyak 3 tumpuk.
    5. Tutup belahan atas tumpukan dengan karung goni basah.
    6. Naungi bedengan dengan daun kering.
    7. Setelah 1 minggu, biji yang retak atau berkecambah ditanamkan pada bedengan atau polibag.
c. Penanaman
  1. Di Bedengan: tanah untuk persemaian di bedengan harus gembur dan subur, jarak tanam kecambah teh 15 x 20 cm atau 20 x 20 cm, kecambah dibenamkan, ditimbun tanah dengan ketebalam 0,5-1 cm (setebal benih) dan ditutupi dengan potongan daun guatemala, atau alang-alang. Bedengan dinaungi dengan naungan individu.
  2. Di polibag dengan ukuran 12 x 25 cm dengan media dan cara penanaman yang sama. Setelah itu polibag berisi kecambah diletakkan di dalam bedengan yang dinaungi.
  3. Pemeliharaan mencakup penyemprotan fungisida Dithane M-45 0,2% dan insektisida Demicron 0,2%. Penyiraman teratur supaya tidak kekeringan, pemupukan 2-3 bulan sehabis tanam dengan pupuk daun Bayfolan 15 cc/10 liter.
  4. Bibit di polibag dipindahtanamkan pada umur 10-12 bulan, bibit di bedengan dipindahkan ke kebun pada umur 1 tahun (puteran) dan 2-3 tahun (stump).
Pembibitan Stek Daun
Stek ditanam di dalam polibag berisi media tanah. Polibag ini disusun di dalam bedengan yang terletak di dalam naungan pembibitan.
  1. Bahan tanaman
  1. Ranting stek diambil berumur 4-5 bulan sehabis pangkas, mulai berkayu dan berwarna coklat. Posisi ranting stek (stekres) tegak lurus (vertikal).
  2. Stekres berasal dari induk yang ditanam di kebun induk (Multiplication plant, MP).
  3. Panjang tangkai stek 3-4 cm dipotong miring 45o ke arah luar dan mempunyai 1 helai daun.
  4. Jumlah stek dari stekres antara 2-5 stek/stekres diambil dari batas pangkal ranting yang berwarna coklat hingga daun ke tiga dari peko (pucuk/tunas yang sedang tumbuh aktif).
  5. Stek direndam di dalam larutan Dithane M-45 15-25 gram/liter selama 1-2 menit.
  1. Media stek
  1. Struktur tanah gembur, sedikit berliat, pH 4,5-5,5, bebas nematoda dan sisa akar/tanaman.
  2. Diperlukan dua macam tanah: 2/3-3/4 belahan lapisan tanah atas (top soil) untuk mengisi belahan bawah polibag ukuran 12×25 cm; 1/4-1/3 belahan lapisan tanah bawah (sub soil) untuk mengisi belahan atas polibag. Sebelumnya tanah disaring dengan saringan 1-2 cm.
  3. Tanah difumigasi Dithane M-45 dengan takaran 300-400 gram/m3 tanah. Dithane dicampur merata pada tanah ketika dimasukkan ke polibag.
  4. Jika pH tanah terlalu tinggi, keasaman ditingkatkan dengan tawa sebanyak 1/2-1 kg/m3 tanah bersama dengan pemberian Dithane M-45.
  5. Pemupukan      dasar
    Hanya diberikan pada tanah lapisan atas: SP-36 dan KCl masing-masing sebanyak 500 gram/m3 tanah.

    1. Setengah belahan bawah polibag 12 x 25 cm diberi 5-6 lubang dengan diameter 0,5-1 cm.
    2. 2. 2/3-3/4 belahan lapisan tanah atas (top soil) mengisi belahan bawah polibag, 1/2-1/3 belahan lapisan tanah bawah (sub soil) mengisi belahan atas. Tanah dalam kondisi kering angin.
    3. Polibag disusun di dalam bedengan (1 m bedengan untuk 156-168 polibag).
    4. Satu hari sebelum tanam, bedengan disiram air.
    5. Buat lubang tanah 2-3 cm.
    6. Tanamkan stek di lubang tanam dengan posisi daun tegak, searah dan tidak saling tindih. Padatkan tanah di sekitar stek.
    7. Siram bedengan dan tutupi dengan selimut plastik, ujungnya ditimbun tanah sehingga membentuk parit.
    8. Pelihara 3 bulan dalam kelembaban 90%.
  1. Pengisian tanah ke polibag
  1. Penanaman stek
  1. Pembuatan       naungan            pembibitan
    Ukuran naungan pembibitan ialah 3 x 2,5 m atau 4,5-2,5 m dengan tinggi 2 m. Setengah bedengan terbuat dari bilik dan belahan atasnya ditutup jarang dengan wide. Pasang reng bambu di belahan atas bangunan ini dan tutup dengan rerumputan sehingga cahaya matahari yang masuk sekitar 25%  pada     3-4       bulan    pertama.            Lebar bedengan 90-100 cm, tinggi 15 cm dan panjang sesuai kebutuhan dan kondisi lapangan. Rangka sungkup terbuat plastik dengan tinggi lengkungan 60-70 cm.
Pemeliharaan Pembibitan
  1. Pengaturan intensitas matahari
  2. 0-3 bulan: 25-30%, naungan tertutup seluruhnya.
  3. 4-5 bulan: 30-40%, atap diperjarang.
  4. 6-7 bulan: 50-75%, atap lebih diper jarang lagi.
  5. 7-12 bulan: 90-100%, atap diperjarang.
  6. > 1 tahun: 90-100%, atap terbuka hingga dibuka
  7. Penyiraman dilakukan bila perlu.
  1. Pemupukan dilakukan sehabis tumbuhan berumur 4 bulan dengan pupuk daun Bayfolan 15 cc/15 liter air atau larutan urea 10-20 gram/liter, 1-2 ahad sekali.
  2. Pengendalian hama penyakit: Menutup sungkup segera bila ada serangan, menyemprot Dihane M-45 atau Cobox pada takaran 0,1-0,2%.
  3. Seleksi bibit dilakukan pada umur 6 bulan.
2. Pengolahan Media Tanam
Persiapan
  1. Persiapan lahan
Karena lahan gres merupakan konversi dari hutan, semak atau lahan pertanian lain, maka perlu dilakukan survey dan pemetaan tanah yang datanya akan menunjang pembuatan peta kebun dan perlengkapannya, pembuatan kemudahan air dan juga jalan.
  1. Pembongkaran             pohon   dan       tanggul
    Pohon dibongkar hingga akarnya dengan memakai takel berkekuatan 3-5 ton, atau dimatikan dulu dengan arborisida sebelum dibongkar.
  2. Pembersihan     lahan    (babad)            di         musim   kemarau
    Dilakukan sehabis pembongkaran selesai, sampah dibuang ke tempat yang tidak ditanami teh dan jangan dibakar.
  3. Pembersihan     gulma   (nyasap)           di         musim   kemarau
    Tanah diolah dengan cangkul sedalam 5-10 cm untuk membersihkan gulma.
  4. Pengolahan tanah
  1. Tanah dicangkul sedalam 60 cm hingga gembur dan biarkan 2-3 minggu.
  2. Olah kembali sedalam 40 cm.
  3. Lakukan pengukuran dan pematokan sehingga terbentuk petakan 20 x 20 m.
  1. Pembuatan       jalan
    Lebar jalan kebun cukup 1 meter.
  2. Pembuatan selokan drainase berdasarkan kemiringan dan letak jalan kebun.
Pembukaan Lahan
Lahan yang digunakan terdiri atas lahan tempat tumbuh tumbuhan teh bau tanah yang populasinya masih cukup banyak 30-50%.
  1. Pembongkaran    pohon   pelindung
    Pohon dibongkar bersama akarnya.
  2. Pembongkaran    tanaman            teh        tua
    Untuk lahan yang landai sanggup dilakukan dengan pencabutan dengan tekel, tetapi kalau kemiringan > 30% perdu dimatikan dengan materi kimia arborisida
  3. Sanitasi    lahan
    Untuk menghindari penyakit cendawan akar yang berasal dari tumbuhan bau tanah dilakukan penanaman rumput Guatemala selama 2 tahun atau Fumigasi dengan metil bromil sebanyak 0,25 kg/10 m2 lahan. Tutup lahan dengan lembaran plastik dan alirkan fumigan, biarkan 2 minggu. Lahan dikeringanginkan 2 minggu.
  4. Pengolahan          tanah
    Untuk lahan yang perdu tehnya dicabut, lahan diolah dengan cara ibarat 3.2.1., tetapi kalau digunakan arborisda untuk mematikan perdu, tanah tidak perlu diolah cukup diratakan.
3. Teknik Penanaman
Penentuan Pola Tanam
Sebelum dibentuk lubang tanam, lahan diajir sesuai dengan jarak tanam yang                  akan     dipakai.
  1. Datar s/d 15%: jarak tanam 120 x 90 cm; jumlah 9.260 pohon; penanaman baris                       tunggal              lurus
  2. 15-30%: jarak tanam 120 x 75 cm; jumlah 11.110 pohon; penanaman baris tunggal lurus
  3. > 30%: jarak tanam 120 x 60 cm; jumlah 13.888 pohon; penanaman sesuai kontur
  4. Batas tertentu: jarak tanam 120 x 60 x 60 cm; jumlah 18.500 pohon; penanaman baris berganda
Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dibentuk dengan ukuran 30 x 30 x40 cm untuk bibit asal stump biji dan 20 x20 x20 cm untuk bibit asal stek
Cara Penanaman
  1. Masukkan pupuk dasar ke dalam lubang yaitu 11 gram urea, 5 gram TSP dan kg KCl.
  2. Jika pH tanah > 6, masukkan sulfur murni 10-15 gram.
  3. Jika bibit berasal dari stump biji:
1)      Bibit berumur 2 tahun, panjang akar 30 cm, tinggi batang 20 cm.
2)      Stump ditanam tegak lurus, padatkan tanah di sekitar batang.
3)      Ratakan tanah, jangan hingga terjadi cekungan di sekitar batang.
  1. Jika bibit berasal dari stek:
1)      Sobek polibag belahan bawah dan belahan sisi.
2)      Tarik ujung polibag bawah ke belahan atas sehingga tumbuhan terbuka.
3)      Masukkan ke dalam lubang tanam, timbun dan padatkan tanah di sekeliling batang.
4)      Polybag ditarik hati-hati melalui tajuk tanaman.
5)      Ratakan tanah, jangan hingga terjadi cekungan di sekitar batang.
Tanaman pelindung sementara dan tetap sangat diharapkan kalau teh ditanam di dataran rendah. Tanaman pelindung sementara ialah Crotalaria sp.dan Tephrosis sp. yang ditanam di antara 2 barisan tumbuhan teh. Penanaman dilakukan dengan biji sehabis teh ditanam.
Tanaman pelindung tetap ditanam kalau pelindung sementara sudah tidak sanggup dipertahankan (2-3 tahun). Tanaman pelindung tetap ditanam 1 tahun sebelum teh ditanam berupa Albizia falcata, A. sumatrana, A. procera, A. chinensis, Leucaena glabrata, L. glauca, Erythrina subumbrans, Gliricida maculata, Acacia decurens.

4. Pemeliharaan Tanaman
Penjarangan dan Penyulaman
Tanaman mati diganti tumbuhan gres dengan bibit yang sama, penyulaman dimulai dua ahad sehabis tanam hingga dua bulan menjelang kemarau. Bibit sulaman yang diharapkan pada tahun pertama ialah 10% dan tahun kedua 5%. Pada tahun ke tiga, tumbuhan teh mulai menghasilkan (Tanaman Menghasilkan/TM).
Pembubunan
Pohon pelindung berfungsi sebagai sumber pupuk hijau, pangkasan daunnya dihamparkan di antara tumbuhan teh. Mulsa diberikan pula melalui penanaman rumput Guatemala. Tanaman pelindung sementara dipertahankan hingga tumbuhan teh berumur 2 tahun.

Pemupukan
Dosis pemupukan (kg/ha/tahun) untuk tumbuhan yang belum menghasilkan (TBM).
  1. Bahan organik top soil < 5%:
    1. Umur tanam 1 tahun:
      -        Andosol/Regosol:         N=100;P2O5=            60;K2O=40;MgO=0
      -        Latosol/Podsolik : N=100;P2O5=50;K2O=50;MgO=0
    2. Umur tanam 2 tahun:
      -        Andosol/Regosol:         N=150;P2O5=60;K2O=40;MgO=20
      - Latosol/Podsolik : N=150;P2O5=75;K2O=75;MgO=40
    3. Umur tanam 3 tahun:
      -        Andosol/Regosol:         N=200;P2O5=75;K2O=50;MgO=20
      - Latosol/Podsolik : N=175;P2O5=75;K2O=75;MgO=40
    4. Bahan organik top soil 5-8%:
      1. Umur tanam 1 tahun:
        -        Andosol/Regosol:         N=80;P2O5=50;K2O=30;MgO=0
        -        Latosol/Podsolik : N=80;P2O5=40;K2O=40;MgO=0
      2. Umur tanam 2 tahun:
        -        Andosol/Regosol:N=120;P2O5=50;K2O=30;MgO=20
        - Latosol/Podsolik : N=120;P2O5=60;K2O=60;MgO=30
      3. Umur tanam 3 tahun:
        -        Andosol/Regosol:         N=150;P2O5=60;K2O=50;MgO=30
        -        Latosol/Podsolik : N=160;P2O5=60;K2O=60;MgO=30
      4. Bahan organik top soil >8%:
        1. Umur tanam 1 tahun:
          -        Andosol/Regosol:         N=70;P2O5=50;K2O=20;MgO=0
          -        Latosol/Podsolik : N=70;P2O5=30;K2O=30;MgO=0
        2. Umur tanam 2 tahun:

                                       -        Andosol/Regosol:N=100;P2O5=50;K2O=30;MgO=20
                                       -        Latosol/Podsolik : N=110;P2O5=50;K2O=50;MgO=25
                                   3. Umur tanam   3  tahun:
                                       -        Andosol/Regosol:         N=130;P2O5=60;K2O=40;MgO=20
                                       -        Latosol/Podsolik : N=140;P2O5=50;K2O=50;MgO=25
Dosis pemupukan kg/ha/tahun untuk tumbuhan yang menghasilkan (TM) dengan sasaran produksi  200 kg  teh  kering/ha/tahun
a)      Urea, ZA (unsur hara N): takaran optimal 250-350, 3-4 kali/tahun
b)  TSP, PARP (unsur hara P2O5): takaran optimal 60-120 untuk Andosol/Regosoldan 15-40 Latosol/Podsolik untuk, 1-2 kali/tahun
c)      MOP, ZK (unsur hara K2O): takaran optimal 60-180, 2-3 kali/tahun
d)      Kiserit (unsur hara MgO): takaran optimal 30-75, 2-3 kali/tahun
e)      Seng sulfit (unsur hara ZnO): takaran optimal 5-10, 7-10 kali/tahun


Hama
  • Helopeltis  antonii
Serangga remaja ibarat nyamuk, menyerang daun teh dan ranting muda. Bagian yang diserang berbercak coklat kehitaman dan mengering. Serangan pada ranting sanggup menyebabkan kanker cabang. Pengendalian: pemetikan dengan daur petik 7 hari, pemupukan berimbang, sanitasi, mekanis, predator Hierodula dan Tenodera, Insektisida nthio 330 EC, Carbavin 85 WP, Mitac 200 EC.
  • Ulat jengkal (Hyposidra talaca, Ectropis bhurmitra, Biston suppressaria)
Ulat berwarna hitam atau coklat bergaris putih, menyerang daun muda, pucuk dan daun tua, serangan sanggup di kebun atau persemaian. Daun yang diserang bergigi/berlubang. Pengendalian: membersihkan serasah dan gulma, pemupukan berimbang dan insektisida Lannate 35 WP, Lannate L.
  • Ulat         penggulung       daun     (Homona          aoffearia)
Ulat berukuran 1-2,5 cm menyerang daun teh muda dan tua. Daun tergulung dan terlipat. Pengendalian: cara mekanis, melepas musuh hayati ibarat Macrocentrus homonae, Elasmus homonae, insektisida Ripcord 5 EC.
  • Ulat         penggulung       pucuk   (Cydia  leucostoma)
Ulat berukuran 2-3 cm berada di dalam gulungan pucuk teh. Pengendalian: cara mekanis, hayati dengan melepas musuh alami Apanteles dan insektisida Bayrusil 250 EC, Dicarbam 85 S, Sevin 85S.
  • Ulat         api        (Setora nitens,   Parasa  lepida,  Thosea)
Ulat berbulu menyerang daun muda dan tua, tumbuhan menjadi berlubang. Pengendalian: cara mekanis, hayati dengan melepas benalu dan insektisida Ripcord 5 EC dan Lannate L.
  • Tungau    jingga   (Brevipalpus     phoenicis)
Berukuran 0,2 mm berwarna jingga, menyerang daun teh bau tanah di belahan permukaan bawah. Terdapat bercak kecil pada pangkal daun, tungau membentuk koloni di pangkal daun, Lalu serangan menuju ujung daun, daun mengering dan rontok. Pengendalian: (1) cara mekanis, pengendalian gulma, pemupukan berimbang, predator Amblyseius, (2) insektisda Dicofan 460 EC, Gusadrin 150 WSC, Kelthane 200 EC, Omite 570 EC.
Penyakit
  • Cacar teh
Penyebab: jamurExobasidium vexans. Menyerang daun dan ranting muda. Gejala: bintik-bintik kecil tembus cahaya dengan diameter 0,25 mm, pada stadium lanjut sentra bercak menjadi coklat dan terlepas sehingga daun bolong. Pengendalian: mengurangi pohon pelindung, pemangkasan sejajar permukaan tanah, pemetikan dengan daur pendek (9 hari), penanaman klon tanah cacar PS 1, RB 1, Gmb1, Gmb 2, Gmb 3, Gmb 4, Gmb 5, fungisida.
  • Busuk daun
Penyebab: jamur Cylindrocladum scoparium. Gejala: daun induk berbercak coklat dimulai dari ujung/ketiak daun, daun rontok, setek akan mati. Pengendalian: mencelupkan stek ke dalam fungisida. Jika persemaian terjangkit semprotkan benomyl 0,2%.
  • Mati ujung     pada bidang           petik
Penyebab: jamurPestalotia tehae. Sering menyerang klon TRI 2024. Gejala: bekas petikan berbercak coklat dan meluas ke bawah dan mengering, pucuk gres tidak terbentuk. Pengendalian: pemupukan sempurna waktu, pemetikan tidak terlalu berat, fungisida yang mengandung tembaga.
  • Penyakit akar merah        anggur
Di dataran rendah 900 meter dpl terutama tanah Latosol. Penularan melalui kontak akar. Penyebab: jamur Ganoderma pseudoferreum. Gejala: tumbuhan menguning, layu, mati. Pengendalian: membongkar dan aben teh yang sakit, menggali selokan sedalam 60-100 cm di sekeliling tumbuhan sehat, fumigasi metil bromida atau Vapam.
  • Penyakit akar merah        bata

Penyebab:           jamur                Proria   hypolatertia.
Di dataran tinggi 1.000-1.500 meter dpl. Ditularkan melalui kontak akar, Gejala: sama dengan penyakit akar merah anggur. Pengendalian: sama dengan penyakit akar merah anggur.

  • Penyakit akar hitam
Penyebab: jamur Rosellinia arcuata di kawasan 1.500 meter dpl dan R. bunodes di kawasan 1.000 meter dpl. Gejala: daun layu, menguning, rontok dan tumbuhan mati, terdapat benang hitam di belahan akar, di permukaan kayu akar terdapat benang putih (R. arcuata) atau hitam (R. bunodes). Pengendalian: sama dengan penyakit akar umumnya.
  • Jamur akar coklat jamur kanker belah, jamur leher akar, jamur busuk akar , jamur akar hitam. Menyerang akar, pengendalian: sama dengan penyakit akar umumnya.
Gulma
  1. Pengendalian gulma di areal TBM:
    1. Cara mekanis, dengan mencabut gulma, memotong gulma di permukaan dan di bawah tanah.
    2. Cara kimia, memakai herbisida pra tumbuh Goal 2E (1-2 L/ha), Caragard 70 WP (2-3 kg/ha), Simazine (2-3 kg/ha), Sencor 70 WP (0,5-1,0 kg/ha).
    3. Pengendalian gulma di areal TM:
      1. Melaksanakan kultur teknis dengan tepat, pemetikan rata supaya tajuk menutup tanah, penyulaman intensif dan pemulsaan.
      2. Cara mekanis.
      3. Cara kimia dengan herbisida pra tumbuh ibarat Karmex 70 WP (1-1,5 kg/ha), Nitrox 70 WP (1-1,5 kg/ha), Caragard 80 WP (2-3 kg/ha) atau Goal 2E (1-2 L/ha).

5. Panen
Ciri dan Umur Panen
Pada tumbuhan teh, panen berarti memetik pucuk/daun teh muda yang berkualitas dalam jumlah sebesar-besarnya dengan memperhatikan kestabilan produksi dan kesehatan tanaman. Tanaman memasuki ketika dipetik sehabis berumur 3         tahun.   Daun    yang     dipetik  adalah:
  1. Peko: Pucuk/tunas yang sedang tumbuh aktif
  2. Burung: Pucuk/tunas yang sedang istirahat
  3. Kepel: Daun kecil yang terletak di ketiak daun tempat ranting tumbuh.
Cara Panen
Terdapat tiga macam petikan teh, yaitu:
  1. Petikan jendangan, petikan pertama sehabis pangkasan untuk membentuk bidang petik supaya datar dan rata.
  2. Petikan produksi, dilakukan sehabis petikan jendangan:
    1. Semua tunas yang melewati bidang petik dan memenuhi rumus petik harus diambil, tunas yang melewati bidang petik tetapi belum memenuhi rumus petik dibiarkan.
    2. Tunas yang terlalu muda harus diambil.
    3. Semua pucuk burung diambil.
    4. Tunas cabang yang menyamping dan tingginya tidak lebih dari bidang pangkas dibiarkan.
    5. Petikan gandesan, dilakukan di kebun yang akan dipangkas dengan cara memetik semua pucuk tanpa melihat rumus petik.
Periode Panen
Panjang pendeknya periode pemetikan ditentukan oleh umur dan kecepatan pembentukan tunas, ketinggian tempat, iklim dan kesehatan tanaman. Pucuk teh dipetik dengan periode antar 6-12 hari. Teh hijau Jepang dipanen dengan frekuensi yang lebih usang yaitu 55 hari sekali.

Prakiraan Produksi
Produksi diharapkan mencapai 200 kg berat kering/ha/tahun.
f. Pascapanen
Waktu memetik teh, jangan menggenggam pucuk terlalu banyak. Pucuk hasil petikan ditempatkan di dalam keranjang 10 kg yang digendong di atas punggung. Waring (keranjang bambu) digunakan untuk menampung hasil petikan dengan ukuran minimal 150 x 160 cm dengan daya muat 20 kg (maksimal 25 kg). Tempatkan waring dalam keadaan terbuka dan tidak ditumpuk di tempat teduh (di los).
ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN
Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya teh pada lahan datar s/d 15 derajat dengan penanaman baris tunggal lurus selama masa tanam 6 tahun dengan luas lahan 1 hektar di kawasan Jawa Barat tahun 1999.
Gambaran Peluang Agribisnis
Teh ialah minuman yang diminati oleh hampir setiap bangsa di dunia. Industri perkebunan teh di Indonesia telah menghasilkan teh yang berkualitas ekspor. Untuk lebih meningkatkan nilai tambah produk pertanian strategis ini, sebaiknya industri teh didiversifikasi ke arah pembuatan produk teh.
Selama ini Indonesia hanya mengekpor teh saja, pengolahan teh untuk mendapat citarasa tertentu dan pengemasannya dilakukan di luar negeri. Dengan demikian, konsumen di luar negeri tidak mengetahui bahwa teh yang mereka minum ditanam di Indonsia, Pendirian industri pengemasan teh siap konsumsi merupakan alternatif yang menarik dalam agribisnis teh.
STANDAR PRODUKSI

1. Ruang Lingkup
Standar produksi ini: mencakup syarat mutu, pengambilan contoh, cara uji, penandaan.dan pengemasan.


2. Diskripsi
Teh ialah pucuk dan daun muda kering dari tumbuhan thea sinensis (L) sims yang telah diolah. Standar mutu teh di Indonesia tercantum dalam Standar Nasional Indonesia SNI 01-3836-1995.

3. Klasifikasi dan Standar Mutu

a) Air: maksimum 12%
b) Abu: maksimum 7%
c) Abu sanggup larut dalam air: minimum 50% dari kadar abu
d) Ekstrak dalam air: minimum 33%
e) Theina: minimum 5%
f) Logam-logam berbahaya (Pb, Cu, Hg) dan arsen: tidak nyata
g) Bau, rasa, keadaan: normal

Adapun cara uji adalah:
  1. Kadar Air
    5-10 gram teladan (yang telah digerus dan dihaluskan) ditimbang dalam sebuah botol timbang. Lalu keringkan pada 105 derajat C, didinginkan dan timbang hingga bobotnya tetap
    Kadar air=(pengurangan bobot materi / berat gram contoh) x 100%
  2. Abu
    5-10 gram teladan (yang telah digerus dan dihaluskan) ditimbang dan dicampurkan dengan air hingga menjadi bubur, tambahkan 1 ml asam sulfat pekat, kemudian panaskan hingga kelebihan asamnya hilang. Sesudah itu dipijar kemudian didinginkan dan dibasahi lagi dengan 2-3 tetes asam sulfat pekat dan dipijarkan lagi. Selam dipijar tambahkan beberapa butir amonium karbonat untuk mempermudah pengabuan, dinginkan dan timbang hingga bobotnya tetap.
    Kadar abu=(bobot bubuk / berat gram teladan ) x 100%
  3. Abu sanggup larut dengan air
    Abu yang terdapat dalam kadar bubuk diatas ditambah dengan air dan dipanaskan diatas pemanas air, kemudian disaring dan dicuci dengan air panas 2-3 kali. Kertas saring (berikut endapannya) dipijarkan dalam cawan petri, kemudian didinginkan dan ditimbang hingga bobotnya tetap.
    Kadar bubuk larut dalam air=(pengurangan bobot masal bubuk / berat gram teladan ) x 100%
  4. Kadar kotoran (pasir, tanah, dsb)
    5-10 gram teladan (yang telah dihaluskan) diabukan ibarat keterangan diatas tersebut, kemudian bubuk ditambah/dilarutkan dalam HCl encer (25%) dan dipanaskan kedalam penangas air. Setelah selesai disaring dan dicuci dengan air panas hingga tak bereaksi asam lagi, sisa saringan dipijar, dinginkan ditimbang hingga bobotnya tetap.
    Kadar abu=( bobot kotoran / berat gram teladan ) x 100%
  5. Kadar ekstrak (sari)
    Kertas saring lingkaran dikeringkan pada suhu 105 derajat C. Dinginkan dan timbang. Masukan 5 gram teladan kedalam piala 1 liter tambahkan 750 ml air didihkan selama 15 menit, saring dengan kertas saring kemudian dinginkan dan ditimbang. Sisa dalam piala ditambahkan lagi dengan 750 ml air dan didihkan kemudian saring. Pekerjaan serupa diulangi hingga 4 kali. Pada saringan terakhir dikumpulkan, kemudian dikeringkan pada suhu 105°, didinginkan dan ditimbang hingga bobotnya tetap. Pengurangan bobot materi asal dikurangi kadar air ialah kadar ekstrak (sari).

4. Pengambilan Contoh
Menurut persetujuan pembeli dan penjual, teladan itu mewakili suatu tanding (pertij). Jumlah tiap-tiap teladan sekurang-kurangnya 250 gram

5. Pengemasan

Pasar internasional memerlukan dua macam teh yaitu:
a) Teh hijau yang tidak difermentasi.
b) Teh hitam yang difermentasi.

Kedua jenis teh tersebut diekspor dalam bentuk daun (leaf) atau serbuk teh (dust). Teh hijau dikemas dalam kemasan 3 kg baik untuk daun maupun serbuk teh.

Daftar Pustaka

a) M.Sultoni Arifin, Dr. dkk. 1992. Petunjuk Kultur Teknis Tanaman Teh. Pusat Penelitian Perkebunan Gambung. Bandung.
b) Rasjid Sukarja, Ir. 1983. Petunjuk Singkat Pengelolaan Kebun Teh. Badan Pelaksana Protek Perkebunan Teh Rakyat dan Swasta Nasional. Bandung.
c) Trubus No. 346. 1998. Kebun Teh Jepang di Garut. 

Cara Budidaya Wortel

Cara Budidaya Wortel


Wortel yaitu sayuran yang telah banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia dan tidak diragukan lagi sebagai sumber vit. A alasannya yaitu mempunyai kadar karotena (provitamin A). Selain itu, wortel juga mengandung vit. B, vit. C, sedikit vit. G, serta zat-zat lain yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Tanamannya mirip rumput dan banyak menyimpan cadangan makanannya di dalam umbi. Tanaman wortel mempunyai  ciri batang pendek, berakar tunggang yang bentuk dan fungsinya berkembang menjadi umbi lingkaran dan memanjang. Umbi berwarna kuning kemerah-merahan, berkulit tipis, dan kalau dimakan mentah terasa renyah dan agak manis. 

Syarat Tumbuh Wortel
Wortel merupakan tumbuhan subtropis yang memerlukan suhu cuek (22-24° C), lembap, dan cukup sinar matahari. Di Indonesia kondisi mirip itu biasanya terdapat di kawasan berketinggian antara 1.200-1.500 m dpl. Sekarang wortel sudah sanggup ditanam di kawasan berketinggian 600 m dpl. Dianjurkan untuk menanam wortel pada tanah yang subur, gembur dan kaya humus dengan pH antara 5,5-6,5. Tanah yang kurang subur masih sanggup ditanami wortel asalkan dilakukan pemupukan intensif. Kebanyakan tanah dataran tinggi di Indonesia mempunyai pH rendah. Bila demikian, tanah perlu dikapur, alasannya yaitu tanah yang asam menghambat perkembangan umbi.
Pedoman Budidaya Wortel
PENGOLAHAN TANAH Tanah yang akan ditanami wortel diolah sedalam 30-40 cm. Tambahkan pupuk sangkar sebanyak 1,5 kg/m2 semoga tanah cukup subur. Bila tanah termasuk miskin unsur hara sanggup ditambahkan pupuk urea 100 kg/ha, TSP 100 kg/ha, dan KCl 30 kg/ha. Selanjutnya dibuatkan bedengan selebar 1,5-2 m dan panjangnya diadaptasi dengan lahan. Tinggi bedengan di tanah kering yaitu 15 cm, sedangkan untuk tanah yang terendam, tinggi bedengan sanggup lebih tinggi lagi. Di antara bedengan perlu dibuatkan parit selebar sekitar 25 cm untuk memudahkan penanaman dan pemeliharaan tanaman. PENANAMAN Kebutuhan benih wortel yaitu 15-20 g/10 m2 atau 15-20 kg/ha. Benih wortel yang baik sanggup dibeli di toko-toko tumbuhan atau membenihkan sendiri dari tumbuhan yang tua. Jika membeli, pilihlah benih yang telah bersertifikat. Benih wortel sanggup eksklusif disebarkan tanpa disemai dahulu. Sebelumnya, benih direndam dalam air sekitar 12-24 jam untuk membantu proses pertumbuhan. Kemudian, benih dicampur dengan sedikit pasir, kemudian digosok-gosokkan semoga benih gampang disebar dan tidak menempel satu sama lain. Benih ditabur di sepanjang alur dalam bedengan dengan pertolongan alat penugal, kemudian benih ditutupi tanah tipis-tipis. Berikutnya, bedengan segera ditutup dengan jerami atau daun pisang untuk menjaga semoga benih tidak hanyut oleh air. Jika tumbuhan telah tumbuh (antara 10-14 hari), jerami atau daun pisang segera diangkat.
Pemeliharaan
Setelah tumbuhan tumbuh segera dilakukan pemeliharaan. Pemeliharaan pertama yaitu penyiraman yang sanggup dilakukan sekali sehari atau dua kali sehari kalau udara sangat kering. Cara pemberian air yang lain ialah dengan jalan menggenangi parit di antara bedengan. Cara mirip ini sanggup dilakukan bila terdapat susukan drainase. Tanaman yang telah tumbuh harus segera diseleksi. Caranya cabutlah tumbuhan yang lemah atau kering, tinggalkan tumbuhan yang sehat dan kokoh. Tindakan ini sekaligus diikuti dengan penjarangan yang berkhasiat untuk memperlihatkan jarak dalam alur dan menjaga tercukupinya sinar matahari sehingga tumbuhan tumbuh subur. Penjarangan menghasilkan alur yang rapi berjarak antara 5- 10 cm. Pemeliharaan selanjutnya yaitu pemupukan yang sudah sanggup dilakukan semenjak tumbuhan berumur dua ahad berupa 50 kg Urea/ha, disusul pemberian kedua (1 atau 1,5 bulan kemudian) berupa urea sebanyak SO kg/ha dan KCl 20 kg/ha. Dosis sanggup berubah sesuai kondisi tanah dan rekomendasi pemupukan yang ada. Cara pemupukan yaitu dengan menaburkan pupuk pada alur sedalam 2 cm yang dibentuk memanjang berjarak sekitar 5 cm dari alur tanaman. Ketika tumbuhan berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pendangiran. Tujuannya semoga tumbuhan tidak terganggu oleh gulma dan menjaga semoga akar tumbuhan tidak terkena sinar matahari secara langsung.
Hama dan Penyakit Wortel
Ada beberapa hama yang penting diketahui alasannya yaitu sering menyerang tumbuhan wortel di Indonesia, di antaranya sebagai berikut. Manggot-manggot (Psila rosae) Umbi wortel yang terjangkit memperlihatkan tanda-tanda kerusakan (berlubang dan membusuk) akhir gigitan pada umbi. Penyebab kerusakan ini yaitu homogen lalat wortel yang disebut manggot-manggot (Psila rosae). Periode aktif perusakan yaitu dikala larva lalat ini memakan umbi selama 5-7 ahad sebelum berkembang menjadi kepompong. Umbi yang telah terjangkit tidak sanggup di perbaiki, sebaiknya dicabut dan dibuang. Pencegahannya, dikala tumbuhan wortel masih muda disiram dengan larutan Polydo120 g dicampur air sebanyak 100 liter. Untuk lebih meyakinkan hasilnya, pemberian Polydol diulangi lagi 10 hari kemudian. Semiaphis dauci Serangan hama ini ditandai dengan terhentinya pertumbuhan, tumbuhan menjadi kerdil, daun-daun menjadi keriting, dan sanggup menyebabkan kematian. Hama ini umumnya menyerang tumbuhan muda sehingga menyebabkan kerugian besar. Hama perusak ini yaitu serangga berwarna abu-abu berjulukan Semiaphis dauci. Pemberantasan dan pengendaliannya dilakukan dengan menyemprotkan Polydol 20 g dicampur air 100 liter. Atau sanggup pula memakai Metasyttox 50 g dicampur air 100 liter. Penyakit Penyakit tumbuhan wortel yang dianggap penting antara lain sebagai berikut. Bercak daun cercospora Penyakit ini ditandai dengan bercak-bercak lingkaran atau memanjang yang banyak terdapat di pinggir daun sehingga daun mengeriting alasannya yaitu cuilan yang terjangkit tidak sama pertumbuhannya dibanding cuilan yang sehat. Penyebab penyakit ini yaitu jamur Cercospora carotae (Pass). Penyebarannya dibantu oleh angin. Bagian tumbuhan yang lebih dahulu terjangkit yaitu daun muda. Pengendaliannya dengan menanam biji yang sehat, menjaga sanitasi, tumbuhan yang telah terjangkit dicabut dan dipendam, serta pergiliran tanaman. Cara pengendalian yang lain yaitu dengan menyemprotkan fungisida yang mengandung zineb dan maneb, yaitu Velimex 80 WP sebanyak 2-2,5 g/1 dengan volume semprot 400-800 1/ha. Busuk hitam (hawar daun) Gejala penyakit ini ditandai dengan bercak-bercak kecil berwarna cokelat bau tanah hingga hitam bertepi kuning pada daun. Bercak sanggup membesar dan bersatu sehingga mematikan daun-daun (menghitam). Tangkai daun yang terinfeksi menyebabkan terjadinya bercak memanjang berwarna mirip karat. Gejala pada akar gres tampak sehabis umbi akar disimpan. Pada akar timbul bercak berbentuk lingkaran dan tidak teratur, agak mengendap dengan kedalaman sekitar 3 mm. Jaringan yang anyir berwarna hitam kehijauan hingga hitam kelam. Terkadang timbul pula kapang kehitaman pada permukaan cuilan yang busuk. Penyebab penyakit ini yaitu jamur Alternaria dauci yang semula disebut Macrosporium carotae. Pengendaliannya dengan pergiliran tanaman, sanitasi, penanaman benih yang sehat, dan membersihkan tumbuhan yang telah terjangkit (dicabut dan dipendam atau dibakar). Dapat juga dipakai fungisida, contohnya Velimex 80 WP sebanyak 2-2,5 g/1 dengan volume semprot 400-800 1/ha.
Panen dan Pasca Panen
Wortel sanggup dipanen sehabis 100 hari tergantung dari jenisnya. Pemanenan dihentikan terlambat alasannya yaitu umbi akan semakin mengeras (berkayu) sehingga tidak disukai konsumen. Cara pemanenan dilakukan dengan jalan mencabut umbi beserta akarnya. Untuk memudahkan pencabutan sebaiknya tanah digemburkan dahulu. Pemanenan sebaiknya dilakukan pagi hari semoga sanggup segera dipasarkan.