Tampilkan postingan dengan label kakao. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kakao. Tampilkan semua postingan
Cara Budidaya Tanaman Coklat Atau Kakao

Cara Budidaya Tanaman Coklat Atau Kakao

Kakao (Theobroma cacao, L)
Cara Budidaya Tanaman Coklat atau Kakao
Tanaman cokelat di Indonesia pertama kali dibudidayakan pada 1921 dan berkembang pesat di daerah-daerah pulau Jawa. Sekarang tumbuhan cokelat sudah menyebar di seluruh Indonesia. Perkembangan cokelat sangat pesat, sebab semakin meningkatnya kebutuhan akan tumbuhan jenis itu, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun ekspor.

Tanaman Kakao merupakan tumbuhan perkebunaan berprospek menjanjikan. Tetapi kalau faktor tanah yang semakin keras dan miskin unsur hara terutama unsur hara mikro dan hormon alami, faktor iklim dan cuaca, faktor hama dan penyakit tanaman, serta faktor pemeliharaan lainnya tidak diperhatikan maka tingkat produksi dan kualitas akan rendah.


PT. Natural Nusantara berusaha membantu petani kakao supaya bisa meningkatkan produktivitasnya supaya sanggup bersaing di periode globalisasi dengan jadwal peningkatan produksi secara kuantitas dan kualitas, menurut konsep kelestarian lingkungan (Aspek K-3).

Syarat tumbuh
Bila kita ingin menyebarkan budidaya tumbuhan cokelat yang perlu diperhatikan yaitu kawasan tanam ketinggiannya tidak lebih dari 800 meter di atas permukaan air laut, dengan suhu 30º C – 32º C (maksimum) dan 18º C – 21º C (minimum) dengan pH 5,6 – 7,2 serta kawasan yang bercurah hujan 1100 mm/tahun – 3000 mm/tahun.

1. Persiapan Lahan

  • Bersihkan alang-alang dan gulma lainnya
  • Gunakan tumbuhan epilog tanah (cover crop) terutama jenis polong-polongan mirip Peuraria javanica, Centrosema pubescens, Calopogonium mucunoides & C. caeraleum untuk mencegah pertumbuhan gulma terutama jenis rumputan
  • Gunakan juga tumbuhan pelindung mirip Lamtoro, Gleresidae dan Albazia, tumbuhan ini ditanam setahun sebelum penanaman kakao dan pada tahun ketiga jumlah dikurangi hingga tinggal 1 pohon pelindung untuk 3 pohon kakao (1 : 3)

2. Pembibitan 

  • Biji kakao untuk benih diambil dari buah cuilan tengah yang masak dan sehat dari tumbuhan yang telah cukup umur
  • Sebelum dikecambahkan benih harus dibersihkan lebih dulu daging buahnya dengan bubuk gosok
  • Karena biji kakao tidak punya masa istirahat (dormancy), maka harus segera dikecambahkan
  • Pengecambahan dengan karung goni dalam ruangan, dilakukan penyiraman 3 kali sehari
  • Siapkan polibag ukuran 30 x 20 cm (tebal 0,8 cm) dan tempat pembibitan
  • Campurkan tanah dengan pupuk sangkar (1 : 1), masukkan dalam polibag
  • Sebelum kecambah dimasukkan tambahkan 1 gram pupuk TSP / SP-36 ke dalam tiap-tiap polibag
  • Benih sanggup dipakai untuk bibit kalau 2-3 hari berkecambah lebih 50%
  • Jarak antar polibag 20 x 20 cm lebar barisan 100 cm
  • Tinggi naungan buatan diadaptasi dengan kebutuhan sehingga sinar masuk tidak terlalu banyak
  • Penyiraman bibit dilakukan 1-2 kali sehari
  • Penyiangan gulma melihat keadaan areal pembibitan
  • Pemupukan dengan N P K ( 2 : 1 : 2 ) takaran sesuai dengan umur bibit, umur 1 bulan : 1 gr/bibit, 2 bulan ; 2 gr/bibit, 3 bulan : 3 gr/bibit, 4 bulan : 4 gr/bibit. Pemupukan dengan cara ditugal
  • Siramkan POC NASA dengan takaran 0,5 - 1 tutup/pohon diencerkan dengan air secukupnya atau semprotkan dengan takaran 4 tutup/tangki setiap 2-4 ahad sekali
  • Penjarangan atap naungan mulai umur 3 bulan dihilangkan 50% hingga umur 4 bulan
  • Amati hama & penyakit pada pembibitan, antara lain ; rayap, kepik daun, ulat jengkal, ulat punggung putih, dan ulat api. Jika terjangkit hama tersebut semprot dengan PESTONA takaran 6-8 tutup/tangki atau Natural BVR takaran 30 gr/tangki. Jika ada serangan penyakit jamur Phytopthora dan Cortisium sebarkan Natural GLIO yang sudah dicampur pupuk sangkar selama + 1 ahad pada masing-masing pohon

3. Penanaman

a. Pengajiran
- Ajir dibentuk dari bambu tinggi 80 - 100 cm
- Pasang ajir induk sebagai patokan dalam pengajiran selanjutnya
- Untuk meluruskan ajir gunakan tali sehingga diperoleh jarak tanam yang sama

b. Lubang Tanam
- Ukuran lubang tanam 60 x 60 x 60 cm pada final trend hujan
- Berikan pupuk sangkar yang dicampur dengan tanah (1:1) ditambah pupuk TSP 1-5 gram per lubang

c. Tanam Bibit
- Pada ketika bibit kakao ditanam pohon naungan harus sudah tumbuh baik dan naungan sementara sudah berumur 1 tahun
- Penanaman kakao dengan system tumpang sari tidak perlu naungan, contohnya tumpang sari dengan pohon kelapa
- Bibit dipindahkan ke lapangan sesuai dengan jenisnya, untuk kakao Mulia ditanam sesudah bibit umur 6 bulan, Kakao Lindak umur 4-5 bulan
- Penanaman ketika hujan sudah cukup dan persiapan naungan harus sempurna. Saat pemindahan sebaiknya bibit kakao tidak tengah membentuk daun muda (flush)

4. Pemeliharaan Tanaman
a. Penyiraman dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore) sebanyak 2-5 liter/pohon
b.Dibuat lubang pupuk disekitar tumbuhan dengan cara dikoak. Pupuk dimasukkan dalam lubang pupuk kemudian ditutup kembali. Dosis pupuk lihat dalam tabel di samping ini :

Tabel Pemupukan Tanaman Coklat


UMUR
(bulan)
Dosis pupuk Makro (per ha)
Urea
(kg)
TSP
(kg)
MOP/ KCl (kg)
2
15
15
8
8
6
15
15
8
8
10
25
25
12
12
14
30
30
15
15
18
30
30
45
15
22
30
30
45
15
28
160
250
250
60
32
160
200
250
60
36
140
250
250
80
42
140
200
250
80



Dst
Dilakukan analisa tanah

Dosis POC NASA mulai awal tanam :

0 – 24
2-3 tutup/ diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar pangkal batang
setiap 4 - 5 bulan sekali

> 24
3-4 tutup/ diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar pangkal batang
setiap 3 – 4 bulan sekali ( sesekali bisa juga disemprotkan ke tumbuhan )

Dosis POC NASA pada tumbuhan yang sudah produksi tetapi tidak dari awal menggunakan POC NASA :
- Tahap 1 : Aplikasikan 3 – 4 kali berturut-turut dengan interval 1-2 bln, Dosis 3-4 tutup/ pohon
- Tahap 2 : Aplikasikan setiap 3-4 bulan sekali, Dosis 3-4 tutup/ pohon

Catatan: Akan lebih baik pertolongan diselingi/ditambah SUPER NASA 1-2 kali/tahun dengan takaran 1 botol untuk + 200 tanaman. 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman setiap pohon.

5. Pengendalian Hama & Penyakit

  • Ulat Kilan ( Hyposidea infixaria; Famili : Geometridae ), menyerang pada umur 2-4 bulan. Serangan berat menyebabkan daun muda tinggal urat daunnya saja. Pengendalian dengan PESTONA takaran 5 - 10 cc / liter.
  • Ulat Jaran / Kuda ( Dasychira inclusa, Familia : Limanthriidae ), ada bulu-bulu gatal pada cuilan dorsalnya mirip bentuk bulu (rambut) pada leher kuda, terdapat pada marke 4 dan 5 berwarna putih atau hitam, sedang ulatnya coklat atau coklat kehitam-hitaman. Pengendalian dengan musuh alami predator Apanteles mendosa dan Carcelia spp, semprot PESTONA.
  • Parasa lepida dan Ploneta diducta (Ulat Srengenge), serangan dilakukan silih berganti sebab kedua species ini agak berbeda siklus hidup maupun cara meletakkan kokonnya, sehingga masa berkembangnya akan saling bergantian. Serangan tertinggi pada daun muda, kuncup yang merupakan sentra kehidupan dan bunga yang masih muda. Siklus hidup Ploneta diducta 1 bulan, Parasa lepida lebih panjang dari pada Ploneta diducta. Pengendalian dengan PESTONA.
  • Kutu - kutuan ( Pseudococcus lilacinus ), kutu berwarna putih. Simbiosis dengan semut hitam. Gejala serangan : nanah pada pangkal buah di tempat yang terlindung, selanjutnya perusakan ke cuilan buah yang masih kecil, buah terhambat dan alhasil mengering kemudian mati. Pengendalian : tumbuhan terjangkit dipangkas kemudian dibakar, dengan musuh alami predator; Scymus sp, Semut hitam, benalu Coccophagus pseudococci Natural BVR 30 gr/ 10 liter air atau PESTONA.
  • Helopeltis antonii, menusukkan ovipositor untuk meletakkan telurnya ke dalam buah yang masih muda, kalau tidak ada buah muda hama menyerang tunas dan pucuk daun muda. Serangga dewasa berwarna hitam, sedang dadanya merah, cuilan mirip tanduk tampak lurus. Ciri serangan, kulit buah ada bercak-bercak hitam dan kering, pertumbuhan buah terhambat, buah kaku dan sangat keras serta buruk bentuknya dan buah kecil kering kemudian mati. Pengendalian dilakukan dengan PESTONA takaran 5-10 cc / lt (pada buah terserang), hari pertama semprot stadia imago, hari ke-7 dilakukan ulangan pada telurnya dan pada hari ke-17 dilakukan terhadap nimfa yang masih hidup, sehingga pengendalian benar-benar efektif, sanitasi lahan, pembuangan buah terserang.
  • Cacao Mot ( Ngengat Buah ), Acrocercops cranerella (Famili ; Lithocolletidae). Buah muda terjangkit hebat, warna kuning pucat, biji dalam buah tidak sanggup mengembang dan lengket. Pengendalian : sanitasi lingkungan kebun, menyelubungi buah coklat dengan kantong plastik yang cuilan bawahnya tetap terbuka (kondomisasi), pelepasan musuh alami semut hitam dan jamur antagonis Beauveria bassiana ( BVR) dengan cara disemprotkan, semprot dengan PESTONA.
  • Penyakit Busuk Buah (Phytopthora palmivora), tanda-tanda serangan dari ujung buah atau pangkal buah nampak kecoklatan pada buah yang telah besar dan buah kecil akan eksklusif mati. Pengendalian : membuang buah terjangkit dan dibakar, pemangkasan teratur, semprot dengan Natural GLIO.
  • Jamur Upas ( Upasia salmonicolor ), menyerang batang dan cabang. Pengendalian : kerok dan olesi batang atau cabang terjangkit dengan Natural GLIO+HORMONIK, pemangkasan teratur, serangan berlanjut dipotong kemudian dibakar.

Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi sanggup dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak gampang hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, takaran + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.


6. Pemangkasan

Pemangkasan ditujukan pada pembentukan cabang yang seimbang dan pertumbuhan vegetatif yang baik. Pohon pelindung juga dilakukan pemangkasan supaya percabangan dan daunnya tumbuh tinggi dan baik.
Pemangkasan ada beberapa macam yaitu :

  • Pangkas Bentuk, dilakukan umur 1 tahun sesudah muncul cabang primer (jorquet) atau hingga umur 2 tahun dengan meninggalkan 3 cabang primer yang baik dan letaknya simetris.
  • Pangkas Pemeliharaan, bertujuan mengurangi pertumbuhan vegetatif yang hiperbola dengan cara menghilangkan tunas air (wiwilan) pada batang pokok atau cabangnya.
  • Pangkas Produksi, bertujuan supaya sinar sanggup masuk tetapi tidak secara eksklusif sehingga bunga sanggup terbentuk. Pangkas ini tergantung keadaan dan musim, sehingga ada pangkas berat pada trend hujan dan pangkas ringan pada trend kemarau.

Pangkas Restorasi, memotong cuilan tumbuhan yang rusak dan memelihara tunas air atau sanggup dilakukan dengan side budding.


7. Panen
Saat petik persiapkan rorak-rorak dan koordinasi pemetikan. Pemetikan dilakukan terhadap buah yang masak tetapi jangan terlalu masak. Potong tangkai buah dengan menyisakan 1/3 cuilan tangkai buah. Pemetikan hingga pangkal buah akan merusak ganjal bunga sehingga pembentukan bunga terganggu dan kalau hal ini dilakukan terus menerus, maka produksi buah akan menurun. Buah yang dipetik umur 5,5 - 6 bulan dari berbunga, warna kuning atau merah. Buah yang telah dipetik dimasukkan dalam karung dan dikumpulkan bersahabat rorak. Pemetikan dilakukan pada pagi hari dan pemecahan siang hari. Pemecahan buah dengan memukulkan pada kerikil hingga pecah. Kemudian biji dikeluarkan dan dimasukkan dalam karung, sedang kulit dimasukkan dalam rorak yang tersedia.

8. Pengolahan Hasil
Fermentasi, tahap awal pengolahan biji kakao. Bertujuan mempermudah menghilangkan pulp, menghilangkan daya tumbuh biji, merubah warna biji dan mendapat aroma dan cita rasa yang enak.
Pengeringan, biji kakao yang telah difermentasi dikeringkan supaya tidak terjangkit jamur dengan sinar matahari eksklusif (7-9 hari) atau dengan kompor pemanas suhu 60-700C (60-100 jam). Kadar air yang baik kurang dari 6 %.
Sortasi, untuk mendapat ukuran tertentu dari biji kakao sesuai permintaan. Syarat mutu biji kakao yaitu tidak terfermentasi maksimal 3 %, kadar air maksimal 7%, serangan hama penyakit maksimal 3 % dan bebas kotoran.
Prospek Cerah Budidaya Kakao

Prospek Cerah Budidaya Kakao


Kakao merupakan salah satu buah hasil perkebunan di tempat tropis Prospek Cerah Budidaya KakaoKakao merupakan salah satu buah hasil perkebunan di tempat tropis. Keberadaan tanaman ini tersebar hingga ke banyak sekali negara menyerupai tempat Amerika selatan, tempat Afrika,  serta wilayah Indonesia. Di Negara Indonesia sendiri, buah kakao banyak ditemukan di daerah Sulawesi, Sumatera, Jawa, Flores serta Nusa Tenggara Timur.
Selain banyak tumbuh di daerah tropis, buah kakao juga mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi. Tak heran lagi jikalau ketika ini prospek cerah bisnis kakao, menarik minat masyarakat untuk dibudidayakan dan diolah menjadi produk yang bernilai tinggi. Buah yang mempunyai nama latinTheobroma Cacao L tersebut, sekarang menjadi salah satu komoditas ekspor yang bisa menambah penghasilan devisa negara setiap tahunnya. Salah satu hasil olahan kakao yang menjadi komoditas ekspor yaitu produk cokelat. Dan yang lebih menguntungkan lagi, kakao dari Negara Indonesia mempunyai kandungan lemak cokelat yang cukup tinggi, sehingga menghasilkan abu kakao dengan mutu yang baik. Kelebihan ini sanggup dijadikan sebagai peluang usaha baru dari hasil budidaya kakao di negara kita.
Melimpahnya buah kakao di Indonesia dengan kandungan lemak cokelat, ternyata tidak selamanya menjamin tingginya kualitas produk yang dihasilkan. Semakin lama, kualitas produk kakao yang ada di negara kita mengalami penurunan harga. Dari mulai fermentasi yang kurang bagus, pengeringan yang belum sempurna, adanya ukuran biji yang tidak seragam, kadar kulit yang cukup tinggi, serta tingkat keasaman yang cukup tinggi,  menjadikan harga kakao Indonesia lebih rendah dibandingkan kakao hasil negara lain.
Turunnya kualitas kakao ketika ini, disebabkan pengolahan yang masih kurang. Kebanyakan masyarakat menggunakan sarana pengolahan yang masih minim, masih banyak yang belum menerapkan teknologi untuk menghasilkan produk yang bermutu. Biji kakao yang bermutu diperhatikan para konsumen dari bentuk fisiknya, cita rasanya, kebersihan produknya, keseragaman produk, serta konsistensi kualitas produk dari proses pengolahan yang tepat.
Proses pengolahan buah kakao menjadi kunci utama kualitas produk hasil kakao, lantaran dalam proses tersebut terjadi pembentukan fisik, cita rasa, serta faktor lain yang menjadi standar produk kakao berkualitas.  Untuk itu berikut kami informasikan beberapa proses pengolahan buah kakao, semoga menghasilkan produk yang berkualitas:
Pemeraman buah
Pemeraman buah yaitu aktivitas yang dilakukan untuk menyeragamkan kematangan buah, sehingga biji kakao lebih gampang dikeluarkan. Kegiatan ini biasanya dilakukan di tempat teduh, selama 5 – 7 hari. Pemeraman dilakukan dengan cara memasukan buah ke dalam keranjang serta permukaannya ditutup dengan daun.
Pemecahan buah
Proses pemecahan buah ditujukan untuk mengeluarkan biji kakao dari buahnya. Usahakan untuk tidak mengenai biji kakao, semoga biji tidak rusak bentuknya maupun warnanya. Keluarkan biji dan buang empelur yang menempel pada biji.
Kakao merupakan salah satu buah hasil perkebunan di tempat tropis Prospek Cerah Budidaya KakaoFermentasi 
Fermentasi merupakan aktivitas untuk melepaskan zat lendir dari permukaan kulit biji dan menghasilkan biji dengan mutu dan aroma yang baik. Selain itu fermentasi juga dilakukan untuk menghindari tumbuhnya hama dan jamur selama masa penyimpanan. Fermentasi sanggup dilakukan dengan menggunakan keranjang bamboo yang sudah higienis dan dialasi daun pisang, untuk memasukan kurang lebih 50 kg biji kakao basah. Setelah itu keranjang yang berisi biji kakao permukaannya ditutupi kembali dengan daun pisang, pada hari ketiga lakukan pembalikan biji dan hari keenam biji bisa dikeluarkan untuk siap dijemur.
Pengeringan 
Pengeringan sanggup dilakukan dengan cara manual, menggunakan mesin pengering, atau kombinasi keduanya. Suhu yang diharapkan dalam proses pengeringan, berkisar antara 55 hingga 66   ºc. Untuk usang pengeringan manual kurang lebih 7 hari bila cuaca tidak hujan, namun bila cuaca sering hujan bisa membutuhkan waktu hingga 4 minggu. Sedangkan bila menggunakan mesin pengering, hanya membutuhkan waktu 20 hingga 25 jam. Pengeringan yang sempurna, menghasilkan biji kakao dengan kandungan air 6 – 7 %.
Sortasi Biji
Sortasi biji dimaksudkan untuk memisahkan antara biji yang baik dengan biji cacat, atau kotoran lain menyerupai kulit kakao, kerikil, serta daun kakao. Kegiatan ini dilakukan menggunakan ayakan, dan dikerjakan sesudah 1 hari atau 2 hari sesudah pengeringan, semoga biji kakao tidak terlalu rapuh.
Pengemasan dan Penyimpanan Biji 
Untuk pengemasan hindari penggunaan karung plastik, biji kakao lebih manis dikemas dalam kantong goni. Selain itu pilih ruangan yang higienis serta mempunyai ventilasi dengan kelembapan dibawah 75 %. Hindari ruangan yang mempunyai aroma tertentu, lantaran biji kakao akan menyerap aroma tersebut. Beri jarak antara wadah dan lantai ± 8 cm, dan jarak wadah dengan dinding ± 60 cm, dengan begitu biji kakao sanggup disimpan selama kurang lebih 3 bulan.
Adanya proses produksi serta penggunaan mesin teknologi tepat guna, akan meningkatkan kualitas produk biji kakao yang ada di Indonesia. Berbagai mesin pengolah kakao menyerupai mesin memecah kulit dan memisahkan biji Kakao, mesin penyangrai, mesin pemasta kasar, mesin pemasta halus, mesin pengupas kulit ari kakao, mesin pemeras lendir biji kakao, kotak fermentasi, mesin pengering kakao, mesin sortasi biji kakao, mesin pengempa lemak, mesin pembubuk cokelat, mesin penghalus cokelat, dll. Dapat membantu para pelaku bisnis untuk mengolah kakao lebih efektif dan efisien, dengan hasil produk yang lebih berkualitas pula.
Semoga dengan informasi potensi bisnis yang dimiliki kakao, sanggup memberikan ide bisnis serta  informasi pengolahan kakao yang efektif dan efisien bagi Anda yang berada di daerah penghasil kakao. Selamat mencoba dan salam sukses.