Tampilkan postingan dengan label Tanaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tanaman. Tampilkan semua postingan
Cara Budidaya Jamur Tiram

Cara Budidaya Jamur Tiram


Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) merupakan jenis jamur pangan dari kelompok Basidiomycota dan termasuk kelas Homobasidiomycetes dengan ciri-ciri umum badan buah berwarna putih hingga krem dan tudungnya berbentuk setengah bundar menyerupai cangkang tiram dengan penggalan tengah agak cekung. Jamur tiram masih satu kerabat dengan Pleurotus eryngii dan sering dikenal dengan sebutan King Oyster Mushroom. Jamur ini merupakan salah satu jenis jamur yang cukup terkenal di tengah masyarakat Indonesia, selain Jenis jamur lainnya menyerupai jamur merang, jamur kuping dan jamur shitake. Pada umumnya jamur tiram dikonsumsi oleh masyarakat sebagai sayuran untuk kebutuhan sehari-hari. Jamur tiram yaitu jenis jamur kayu yang mempunyai kandungan nutrisi lebih tinggi dibandingkan dengan jenis jamur kayu lainnya. Jamur tiram mengandung protein, lemak, fospor, besi, thiamin dan riboflavin lebih tinggi dibandingkan dengan jenis jamur lain. Jamur tiram mengandung 18 macam asam amino yang diharapkan oleh badan insan dan tidak mengandung kolesterol
Budidaya jamur tiram mempunyai beberapa keunggulan dan akomodasi dalam proses budidayanya sehingga sanggup dikelola sebagai perjuangan sampingan ataupun perjuangan hemat skala kecil, menengah dan besar (Industri). Negara-negara yang telah berbagi budidaya jamur tiram sebagai agrobisnis andalan dan unggulan yaitu Cina, belanda, Spanyol, Prancis, Belgia dan Thailand. Negara-negara tersebut trermasuk produsen jamur terbesar di dunia.

Jika anda tertarik menekuni perjuangan budidaya jamur tiram ini, hal penting yang harus dipenuhi yaitu membuat dan menjaga kondisi lingkungan pemeliharaan (cultivation) yang memenuhi syarat pertumbuhan jamur tiram. Hal lain yang penting yaitu menjaga lingkungan pertumbuhan jamur tiram terbebas dari mikroba atau tumbuhan pengganggu lainnya. Tidak jarang pembudidaya jamur tiram mendapati baglog(kantong untuk media jamur tiram) ditumbuhi tumbuhan lain selain jamur tiram, hal ini disebabkan proses sterilisasi yang kurang baik dan lingkungan yang tidak kondusif.
Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk melakuka budidaya jamur tiram ini, tahapan pemeliharaan atau penanaman jamur tiram mencakup persiapan sarana produksi dan tahapan budidaya jamur tiram. Tahapan ini merupakan proses budidaya jamur tiram dari mulai pembuatan media hingga proses pemanenan jamur tiram. Jika anda tidak ingin repot menyemai benih, anda sanggup membeli baglog yang sudah siap dengan benih jamur tiram yang sudah siap dibudidayakan.

Persiapan Budidaya Jamur Tiram

Bangunan/Ruangan Budidaya Jamur Tiram
Pada dasarnya bangunan sanggup memanfaatkan ruangan yang ada dalm rumah, biasanya bangunan untuk budidaya Jamur Tiram bangunan jamur terdiri dari beberapa ruangan, diantaranya:

1. Ruang persiapan
Ruang persiapan yaitu ruangan yang berfungsi untuk melaksanakan aktivitas Pengayakan, Pencampuran, Pewadahan, dan Sterilisasi.


2. Ruang Inokulasi
Ruang Inokulasi yaitu ruangan yang berfungsi untuk menanam bibit pada media tanam, ruang ini harus gampang dibersihkan, tidak banyak ventilasi untuk menghindari kontaminasi (adanya mikroba lain).


3. Ruang Inkubasi
Ruangan ini mempunyai fungsi untuk menumbuhkan miselium jamur pada media tanam yang sudah di inokulasi (Spawning). Kondisi ruangan diatur pada suhu 22 – 28 derajat C dengan kelembaban 60% – 80%, Ruangan ini dilengkapi dengan rak-rak bambu untuk menempatkan media tanam dalam kantong plastic (baglog) yang sudah di inokulasi.


4.Ruang Penanaman
Ruang penanaman (growing) dipakai untuk menumbuhkan badan buah jamur. Ruangan ini dilengkapi juga dengan rak-rak penanaman dan alat penyemprot/pengabutan. Pengabutan berfungsi untuk menyiram dan mengatur suhu udara pada kondisi optimal 16 – 22 derajat C dengan kelembaban 80 – 90%.

Peralatan Dan Bahan Budidaya Jamur Tiram


Peralatan yang dipakai pada budidaya jamur diantaranya, Mixer, cangkul, sekop, filler, botol, boiler, gerobak dorong, sendok bibit, centong.

Bahan-bahan yang dipakai dalam budidaya jamur tiram yaitu Serbuk kayu, bekatul (dedak), kapur (CaCO3), gips (CaSO4), tepung jagung (biji-bijan), glukosa, kantong plastik, karet, kapas, cincin plastik.

Proses dan Teknik Budidaya Jamur Tiram


Dalam melaksanakan Budidaya Jamur Tiram ada beberapa proses dan aktivitas yang dilaksanakan antara lain:

1. Persiapan Bahan

Bahan yang harus dipersiapkan diantaranya serbuk gergaji, bekatul, kapur, gips, tepung jagung, dan glukosa.


2. Pengayakan
Serbuk kayu yang diperoleh dari penggergajian mempunyai tingkat keseragaman yang kurang baik, hal ini berakibat tingkat pertumbuhan miselia kurang merata dan kurang baik. Mengatasi hal tersebut maka serbuk gergaji perlu di ayak. Ukuran ayakan sama dengan untuk mengayak pasir (ram ayam), pengayakan harus mempergunakan masker lantaran dalam serbuk gergaji banyak tercampur debu dan pasir


3. Pencampuran
Bahan-bahan yang telah ditimbang sesuai dengan kebutuhan dicampur dengan serbuk gergaji selanjutnya disiram dengan air sekitar 50 – 60 % atau kalau kita kepal serbuk tersebut menggumpal tapi tidak keluar air. Hal ini membuktikan kadar air sudah cukup.


4. Pengomposan
Pengomposan yaitu proses pelapukan materi yang dilakukan dengan cara membumbun adonan serbuk gergaji lalu menutupinya dengan plastic


5. Pembungkusan (Pembuatan Baglog)
Pembungkusan memakai plastik polipropilen (PP) dengan ukuran yang dibutuhkan. Cara membungkus yaitu dengan memasukkan media ke dalam plastik lalu dipukul/ditumbuk hingga padat dengan botol atau memakai filler (alat pemadat) lalu disimpan.


6. Sterilisasi
Sterilisasi dilakukan dengan mempergunakan alat sterilizer yang bertujuan menginaktifkan mikroba, bakteri, kapang, maupun khamir yang sanggup mengganggu pertumbuhan jamur yang ditanam. Sterilisasi dilakukan pada suhu 90 – 100 derajat C selama 12 jam.


7. Inokulasi (Pemberian Bibit)
Inokulasi yaitu aktivitas memasukan bibit jamur ke dalam media jamur yang telah disterilisasi. Baglog ditiriskan selama 1 malam sesudah sterilisasi, lalu kita ambil dan ditanami bibit diatasnya dengan mempergunakan sendok makan/sendok bibit sekitar + 3 sendok makan lalu diikat dengan karet dan ditutup dengan kapas. Bibit Jamur Tiram yang baik yaitu:
- Varitas unggul
- Umur bibit optimal 45 – 60 hari
- Warna bibit merata
- Tidak terkontaminasi


8. Inkubasi (masa pertumbuhan miselium) Jamur Tiram
Inkubasi Jamur Tiram dilakukan dengan cara menyimpan di ruangan inkubasi dengan kondisi tertentu. Inkubasi dilakukan hingga seluruh media berwarna putih merata, biasanya media akan tampak putih merata antara 40 – 60 hari.


Panen dilakukan sesudah pertumbuhan jamur mencapai tingkat yang optimal, pemanenan ini biasanya dilakukan 5 hari sesudah tumbuh calon jamur. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari untuk mempertahankan kesegarannya dan mempermudah pemasaran. (Galeriukm).

Cara Budidaya Anthurium

Cara Budidaya Anthurium


Tanaman hias secara garis besar dibagi menjadi dua kelompok utama yaitu tumbuhan taman (landscaped plant) dan tumbuhan penghias rumah (house plant). Di antara jenis tumbuhan hias yang banyak diminati ialah Anthurium. Anthurium merupakan tumbuhan orisinil dari kawasan tropis yang telah menyebar ke seluruh penjuru dunia. 
Anthurium ialah tumbuhan hias tropis, mempunyai daya tarik tinggi sebagai penghias ruangan, alasannya ialah bentuk daun dan bunganya yang indah, Anthurium yang berdaun indah ialah orisinil Indonesia, sedangkan yang untuk bunga potong berasal dari Eropa.
Di Indonesia tidak kurang terdapat 7 jenis anthurium, yaitu Anthurium cyrstalinum (kuping gajah), Anthurium pedatoradiatum (wali songo), Anthurium andreanum, Anthurium rafidooa, Anthurium hibridum (lidah gajah), Anthurium makrolobum dan Anthurium scherzerianum.

Anthurium termasuk keluarga Araceae yang mempunyai perakaran yang banyak, batang dan daun yang kokoh, serta bunga berbentuk ekor. Tanaman berdaun indah ini masih berkerabat dengan sejumlah tumbuhan hias terkenal semacam aglaonema, philodendron, keladi hias, dan alokasia. Dalam keluarga 
araceae
, anthurium ialah genus dengan jumlah jenis terbanyak. Diperkirakan ada sekitar 1000 jenis anggota marga anthurium.
 Anthurium, salah satu tumbuhan hias indoor yang mempunyai daya tarik tersendiri alasannya ialah bentuk daun dan bunganya unik. Ada dua macam anthurium, yaitu anthurium daun dan anthurium bunga. Anthurium daun dinikmati alasannya ialah keindahan daunnya sedangkan anthurium bunga alasannya ialah keindahan bunganya (Fatihagriculture, 2007). 
Di alam anthurium gampang tumbuh pada media batang pepohonan yang telah membusuk atau tumbuh di pepohonan dan bersifat epifit. Oleh risikonya pembudidayaan tumbuhan ini tidaklah sulit. 
Akar utama pada tumbuhan anthurium ialah rimpang (rhizoma) yang mempunyai akar adventif. Morfologi dan sifat akar perlu diketahui semoga sanggup memilih cara budidaya dan perawatan anthurium secara benar alasannya ialah akar berfungsi penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan (Lingga, 2007). Tanaman anthurium mempunyai dua macam bunga yaitu bunga jantan dan bunga betina. Bunga jantan ditandai oleh adanya benangsari, sedangkan bunga betina ditandai oleh adanya lendir. Biji diperoleh dengan menyilangkan bunga jantan dan bunga betina. Dengan menggunkan jentik, bunga sari diambil dan dioleskan hingga rata di penggalan lendir pada bunga betina (Tabloidgallery, 2007). 
 Meskipun pembudidayaan tumbuhan relatif gampang namun cara pembudidayaan yang baik perlu dikuasai semoga tumbuhan yang dibudidayakan sanggup tumbuh baik sehingga mampu menampilkan keindahan yang prima. Berikut ini perawatan standar untuk anthurium : 

Media tanam
  Anthurium bisa tumbuh di media tanah merah sekalipun. Tapi akan lebih baik bila media tanamnya porus, berupa gabungan pakis, sekam bakar, sekam biasa, dan bisa ditambah pasir malang. Kalau akarnya bisa tumbuh bagus, tumbuhan juga akan baik. Media tanam dan wadah (pot) wajib bersirkulasi udara baik. Untuk menghindari jamur yang sering menyerang anthurium, media tanam direndam dalam larutan antijamur (Fungisida), sebelum dipakai. Penggantian media dilakukan jikalau pot sudah tak bisa menampung pertumbuhan akar. Caranya, tumbuhan dipindahkan ke pot lebih besar berikut medianya, kemudian tambahkan media hingga penuh.  
Anthurium sanggup diperbanyak dengan 2 cara, yaitu generatif (biji) dan vegetatif (stek).
1. Perbanyakan dengan cara generatif (biji)
Tanaman anthurium mempunyai 2 macam bunga (Gambar 1) yaitu bunga jantan dan bunga betina. Bunga jantan ditandai oleh adanya benang sari, sedangkan bunga betina ditandai oleh adanya lendir. Biji diperoleh dengan menyilangkan bunga jantan dan bunga betina.
Dengan memakai jentik, bunga sari diambil dan dioleskan hingga rata di penggalan lendir pada bunga betina. Sekitar 2 bulan kemudian, bunga yang dihasilkan sudah masak, di dalamnya terdapat banyak biji anthurium. Biji-biji tersebut di kupas, dicuci hingga higienis dan diangin-anginkan, kemudian ditabur  pada medium tanah halus. Persemaian ditempatkan pada kondisi lembab dan selalu disiram.
2. Perbanyakan dengan cara vegetatif (stek)
Ada 2 cara perbanyakan secara vegetatif, yaitu stek batang dan stek mata tunas. Cara perbanyakan dengan stek batang ialah memotong penggalan atas tumbuhan (batang) dengan menyertakan 1 – 3 akar, penggalan atas tumbuhan ‘yang telah dipotong kemudian ditanam, pada medium tumbuh yang telah disiapkan. Sebaliknya perbanyakan dengan mata tunas ialah mengambil satu mata pada cabang, kemudian menanam mata tunas pada medium tumbuh yang telah disiapkan.

Lokasi penempatan
  Flora berdaun indah ini tidak menyukai sinar matahari penuh. Pertumbuhan optimal akan berlangsung di tempat yang relatif teduh. Untuk mengatur intensitas cahaya bisa memakai paranet 65% rangkap dua. Piranti itu ber!ungsi untuk melindungi tumbuhan dari sengatan sinar matahari langsung. Anthurium bisa juga ditempatkan di teras rumah yang tidak terkena sinar matahari langsung. Disarankan rutin memutar tumbuhan supaya pertumbuhan seimbang di setiap sisi.  
Pemupukan dan penyiraman
  pengaruh pemupukan tidak terlalu dahsyat. Namun pemupukan tetap harus dilakukan semoga anthurium cukup mendapat suplai hara. Jatah pupuk Oecastar diberikannya setiap 3 bulan sekali. Setelah itu bisa diberikan pupuk berbarengan dikala penyiraman, semisal Growmore. Frekuensinya bisa setiap ahad atau setiap bulan dengan takaran rendah. Setiap ahad diberikan B1 yang disemprotkan ke daun supaya tetap sehat. Penyiraman tergantung musim. Saat ekspresi dominan kemarau disiram setiap hari sekali. Sementara pada ekspresi dominan hujan, tak perlu disiram jikalau anthurium sudah terkena air hujan

Berdasarkan kegunaannya, medium tumbuh dibagi menjadi 2 macam, yaitu medium tumbuh untuk persemaian dan untuk tumbuhan dewasa. Medium tumbuh terdiri dari gabungan humus, pupuk sangkar dan pasir kali. Humus  atau tanah hutan dan pupuk sangkar yang sudah jadi di ayak dengan ukuran ayakan 1 cm, sedangkan pasir kali di ayak dengan ukuran ayakan 3 mm.
Humus, pupuk sangkar dan pasir kali yang telah di ayak, dicampur dengan perbandingan 5 : 5 : 2. Untuk persemaian, medium tumbuh perlu disterilkan dengan cara mengukus selama satu jam.

Untuk menanam bunga anthurium, sanggup digunakan pot tanah, pot plastik atau pot straso. Pot yang paling baik ialah pot tanah alasannya ialah mempunyai banyak pori-pori yang sanggup meresap udara dari luar pot. Apabila digunakan pot yang masih baru, pot perlu direndam dalam air selama 10 menit. Bagian bawah pot diberi pecahan genting/pot yang melengkung, kemudian di atasnya diberi pecahan watu merah setebal 1/4 tinggi pot. Medium tumbuh berupa gabungan humus, pupuk sangkar dan pasir kali dimasukkan dalam pot

Setelah tanam, tumbuhan dipelihara dengan menyiram 1 – 2 kali sehari. Daun yang sudah bau tanah atau rusak alasannya ialah hama dan penyakit, dipotong semoga tumbuhan tampak higienis dan menarik. Sebaiknya tumbuhan ini dipelihara di tempat teduh alasannya ialah tumbuhan tidak tahan sinar matahari langsung.


Hama Dan Penyakit Pada Flora Cabe Dan Cara Penanggulangannya

Hama Dan Penyakit Pada Flora Cabe Dan Cara Penanggulangannya


Cabe merupakan salah satu tumbuhan favorit para petani lantaran laba yang cukup besar dari produk pertanian ini. Namun untuk membudidayakan tumbuhan cabai bukanlah kasus mudah. 
Hama yang sering menyerang tumbuhan cabai yaitu :
a.Ulat tanah atau Agrotis Ipsilon
b.Thrips
c.Ulat grayak atau Spodoptera litura
d.Lalat buah atau Dacus verugenius
e.Aphids hijau /kutu daun
f.Tungau / mite
g.Nematode puru akar.


Ulat Tanah dengan nama latin Agrotis ipsilon, biasa menyerang tumbuhan cabai yang gres pindah tanam, yaitu dengan cara memotong batang utama tumbuhan hingga roboh bahkan bisa hingga putus. Untuk tindakan pencegahan sanggup dilakukan penyemprotan insektisida Turex WP dengan konsentrasi 0,25 – 0,5 g/liter bergantian dengan insektisida Direct 25ec dengan konsentrasi 0,4 cc/liter atau insentisida Raydok 28ec dengan konsentrasi 0,25-0,5 cc/liter sehari sebelum pindah tanam.

Ulat grayak pada tumbuhan cabai biasa menyerang daun, buah dan tumbuhan yang masih kecil. Untuk tindakan pengendalian dianjurkan menyemprot pada sore atau malam hari dengan insektisida biologi TurexWP bergantian dengan insektisida Raydok 28ec atau insektisida Direct 25ec.

Lalat buah tanda-tanda awalnya yaitu buah berlubang kecil, kulit buah menguning dan jika dibelah biji cabai berwarna coklat kehitaman dan pada balasannya buah rontok. Untuk pencegahan dan pengendalian sanggup dilakukan dengan menciptakan perangkap dengan sexferomon atau dengan penyemprotan insektisida Winder 100EC dengan konsentrasi 0,5 hingga 1 cc per liter bergantian dengan insektisida Promectin 18ec dengan konsentrasi 0,25-0,5 cc/liter atau dengan insektisida Cyrotex 75sp dengan konsentrasi 0,3-0,6 g/liter.
Hama Tungau atau mite menyerang tumbuhan cabai hingga daun berwarna kemerahan, menggulung ke atas, menebal balasannya rontok. Untuk penengendalian dan pencegahan semprot dengan  akarisida Samite 135EC dengan konsentrasi  0,25 – 0,5 ml / liter air bergantian dengan insektisida Promectin 18ec dengan konsentrasi 0,25-0,5 cc/liter.


Tanaman yang terserang hama thrips, bunga akan mengering dan rontok. Sedangkan apabila menyerang pecahan daun pada daun terdapat bercak keperakan dan menggulung. Jika daun terjangkit aphids, daun akan menggulung kedalam, keriting, menguning dan rontok. Untuk pencegahan dan pengendalian lakukan penyemprotan dengan insektisida Winder 25 WP dengan konsentrasi 100 – 200 gr / 500 liter air / ha atau dengan Winder 100EC 125 – 200 ml / 500 liter air / Ha bergantian dengan insektisida Promectin 18ec dengan konsentrasi 0,25-0,5 cc/liter.


Nematoda merupakan organisme pengganggu tumbuhan yang menyerang kawasan perakaran tumbuhan cabe. Jika tumbuhan terjangkit maka transportasi materi makanan terhambat dan pertumbuhan tumbuhan terganggu. Selain itu kerusakan akhir nematode sanggup memudahkan kuman masuk dan mengakibatkan layu bakteri. Pencegahan yang efektif yaitu dengan menanam varietas cabai yang tahan terhadap nematode dan melaksanakan penggiliran tanaman. Dan apabila lahan yang ditanami merupakan kawasan endemi, pertolongan nematisida sanggup diberikan bersamaan dengan pemupukan.

Penyakit yang sering menyerang tumbuhan cabai diantaranya yaitu :
a.Rebah semai
b.Layu Fusarium
c.Layu kuman
d.Antraknose / patek
e.Busuk Phytophthora
g.Bercak daun Cercospora
h.Penyakit Virus

Penyakit anthracnose buah. Gejala awalnya yaitu kulit buah akan tampak mengkilap, selanjutnya akan timbul bercak hitam yang lalu meluas dan balasannya membusuk. Untuk pengendaliannya semprot dengan fungisida Kocide 54 WDG dengan konsentrasi 1 hingga 2 g / l air bergantian dengan fungisida Victory 80wp dengan konsentrasi 1 – 2 g / liter air.

Penyakit busuk Phytopthora gejalanya yaitu pecahan tumbuhan yang terjangkit terdapat bercak coklat kehitaman dan usang kelamaan membusuk. Penyakit ini sanggup menyerang tumbuhan cabai pada pecahan daun, batang maupun buah. Pengendaliannya yaitu dengan menyemprot fungisida Kocide 77 wp dengan takaran 1,5 – 3 kg / Ha bergantian dengan fungisida Victory 80WP konsentarsi 2 hingga 4 gram / liter dicampur dengan fungisida sistemik Starmyl 25 wp dengan takaran 0,8 – 1 g / liter.

Rebah semai ( dumping off ) . Penyakit ini biasanya menyerang tumbuhan ketika dipersemaian. Jamur penyebabnya yaitu Phytium sp. Untuk tindakan pencegahan sanggup dilakukan perlakuan benih dengan Saromyl 35SD dan menyemprot fungisida sistemik Starmyl 25WP ketika dipersemaian dan ketika pindah tanam dengan konsentrasi 0,5 hingga 1 gram / liter.

Penyakit layu fusarium dan layu kuman pada tumbuhan cabai biasanya mulai menyerang tumbuhan ketika fase generatif. Untuk mencegahnya dianjurkan penyiraman Kocide 77WP pada lubang tanam dengan konsentrasi 5 gram / liter / lima tanaman, mulai ketika tumbuhan menjelang berbunga dengan interval 10 hingga 14 hari.

Penyakit bercak daun cabai disebabkan oleh cendawan Cercospora capsici. Gejalanya berupa bercak bercincin, berwarna putih pada tengahnya dan coklat kehitaman pada tepinya. Pencegahannya sanggup dilakukan dengan menyemprot fungisida Kocide 54WDG konsentrasi 1,5 hingga 3 gram / liter bergantian dengan fungisida Victory 80WP konsentrasi 2 hingga 4 gram / liter dengan interval 7 hari.

Penyakit mozaik virus. Saat ini belum ada pestisida yang bisa mengendalikan penyakit mozaik virus ini. Dan sebagai tindakan pencegahan sanggup dilakukan pengendalian terhadap binatang pembawa virus tersebut yaitu aphids.

Untuk pencegahan serangan hama penyakit, gunakan benih cabai bibit unggul yang tahan terhadap serangan hama penyakit dan yang telah diberi perlakuan pestisida. Apabila terjadi serangan atau untuk tujuan pencegahan lakukan aplikasi pestisida sesuai OPT yang menyerang atau sesuai petunjuk petugas penyuluh lapang.
Mengatasi Serangan Keriting Pada Tanaman Cabai

Mengatasi Serangan Keriting Pada Tanaman Cabai


Penyakit pada tumbuhan cabai, salah satunya yaitu kriting daun. Kriting daun sanggup mengakibatkan turunnya jumlah produktivitas cabai, bahkan sanggup mengakibatkan kematian.

Gejala daun mengeriting pada tumbuhan cabe sanggup disebabkan oleh serangan hama Thrips dan Mite, yaitu kutu daun. Serangga menyerap cairan pada daun, terutama daun muda sehingga daun tidak sanggup tumbuh normal dan nampak mengeriting. Jika ditemukan tanda-tanda daun mengeriting ke atas maka penyebabnya yaitu serangga Thrips. Sedangkan tanda-tanda daun mengeriting ke bawah maka penyebabnya yaitu serangga Mite.

Gejala serangan ini banyak ditemukan pada animo kemarau, hal ini lantaran terjadi ledakan siklus hidup kutu daun. Jika kita tidak segera mengatasi serangan serangga ini maka tanaman cabai kita tidak akan tumbuh normal. Dan kalau dibiarkan tunas-tunas gres akan mati sehingga tumbuhan tidak sanggup berproduksi dengan baik. Untuk mengatasi serangan serangga tersebut, yang sanggup kita lakukan berikut ini Tipsnya :

1.      Membuat border atau pagar disekeliling lahan budidaya cabai, border yang sanggup kita pakai yaitu tumbuhan jagung atau dengan memasang pagar berupa plastik setinggi 1,5 – 2 m. Tanaman jagung ditanaman 1 bulan sebelum tumbuhan cabai. Pagar plastik dioles dengan minyak goring, biar serangga melekat pada plastik.
2.      Melakukan penyemprotan pada tanaman cabai yang terjangkit dengan air pada pagi dan sore hari. Hal ini dimaksudkan biar serangga tidak aktif untuk berkembang biak. Sehingga tidak terjadi ledakan hama.
3. Mengontrol serangga dengan menyemprot pestisida. Bahan kimia yang saya rekomendasikan yaitu adonan materi aktif Abamektin dan Imidakloprit dengan perbandingan materi 1:1 .
4.      Jika tumbuhan cabe sudah terlanjur terserangan dan pertumbuhannya terlihat tidak normal maka sehabis serangga dikontrol dengan pestisida maka dilanjutkan dengan penyemprotan hormon pemacu pertumbuhan menyerupai GA3,  Atonik, atau pupuk daun.  


cara menanam cabai