Tampilkan postingan dengan label Lele. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lele. Tampilkan semua postingan
Cara Budidaya Lele Dumbo Pada Bak Terpal

Cara Budidaya Lele Dumbo Pada Bak Terpal



Cara Budidaya Lele Dumbo Pada Kolam Terpal - Memelihara lele dumbo di kolam tanah atau kolam beton mungkin sudah banyak dilakukan orang. Namun, bagaimana lika memelihara lele dumbo di kolam terpal? Ya, kolam terpal. Sebuah penemuan gres pembudidayaan ikan secara intensif ini juga sanggup diaplikasikan untuk memelihara lele dumbo. Anda tidak perlu menggali atau menembok tanah untuk menciptakan kolam, tetapi cukup dengan menciptakan kerangka darj kayu, kemudian menutupnya dengan plastik atau terpal, kesudahannya kolam sudah sanggup digunakan.
Selain itu, lele yang berasal darj kolam terpal terbukti tidak berbau lumpur. Hal ini yang menimbulkan lele darj kolam terpal lebih disukai pedagang maupun konsumen. Anda ragu-ragu atau mungkin tidak percaya, silakan baca buku ini dan buktikan. Buku ini ditulis oleh tiga orang pakar ikan konsumsi. Di dalamnya berisi perihal aneka tip dan kiat-kiat memelihara lele dumbo di kolam terpal, darj pembuatan kolam, perawatan, sumbangan pakan, hingga panen dan pemasaran.
Ikan Lele merupakan keluarga Catfish yang  mempunyai jenis yang sangat banyak, diantaranya Lele Dumbo, Lele Lokal, Lele Phyton, Lele Sangkuriang dan lain-lain. Pada kesempatan ini akan dibahas Budidaya lele dumbo pada Kolam terpal. Budi Daya Ikan Lele dumbo relatif lebih gampang dan sederhana bila dibandingkan dengan kebijaksanaan daya guramih. Pada dasarnya metode Budi Daya ini ialah solusi untuk beberapa kondisi antara lain lahan yang sempit,  modal yang tidak terlalu besar dan solusi untuk tempat yang minim air. Lele Dumbo merupakan ikan yang mempunyai beberapa keistimewaan dan banyak diminati orang.



Aneka masakan dari lele sanggup diperoleh dengan mudah, rasa daging yang enak dan gurih menciptakan bisnis kebijaksanaan daya lele menjadi peluang perjuangan yang cukup menjanjikan keuntungan. Selain itu Lele dumbo lebih gampang dipelihara dan cepat dalam pertumbuhannya. Dengan kondisi air yang “buruk” Lele dumbo sanggup bertahan hidup dan berkembang dengan baik, dengan demikian solusi pemeliharaan lele dumbo dengan terpal menjadi alternatif yang perlu dicoba. Budi Daya Ikan Lele dumbo dengan Kolam terpal mendatangkan peluang usaha yang cukup menjanjikan dan tidak memerlukan modal perjuangan yang besar. Analisis kebijaksanaan daya Lele Dumbo dapa dilakukan dalam aneka macam model untuk konsumsi dan pembibitan.

Model Budi Daya Lele Dumbo

Peluang perjuangan Budi daya lele dumbo dengan kolam terpal sanggup dilakukan dalam beberapa bentuk antara lain, tujuan pembibitan dan tujuan konsumsi. Budi daya Ikan Lele Dumbo sebagai bibit merupakan upaya memenuhi kebutuhan bibit yang terus meningkat seiring dengan seruan Ikan Lele Dumbo Konsumsi. Budi Daya Ikan Lele Dumbo Konsumsi merupakan upaya memelihara Ikan Lele Dumbo hingga ukuran dan bobot tertentu. Biasanya dari berat 1 ons per ekor ikan lele dumbo hingga 1 kg per ekor. Ukuran Lele Dumbo 1 Kg /ekor  ke atas biasanya digunakan pada kolam pemancingan yang berisi Lele dumbo.

Cara Budidaya Lele Dumbo Pada Kolam Terpa Cara Budidaya Lele Dumbo Pada Kolam Terpal
Salah Satu Model Kolam Terpal Lele Dumbo


Budi Daya Lele Dumbo Untuk Pembibitan

Peluang Usaha Budi Daya Lele dumbo Untuk tujuan pembibitan sanggup dilakukan antara lain:
- Pemijahan dan penetasan telur lele dumbo, sehabis menetas sanggup dijual kepada peternak lain untuk dibesarkan atau dipelihara lagi hingga besar. Karena bibit lele dumbo gres menetas sudah sanggup dijual, sehingga merupakan peluang perjuangan bagi yang menentukan menekuni bidang ini. Jika lahan yang tersedia sempit solusi ini sanggup menjadi alternatif. Modal untuk perjuangan ini hanya tempat dan indukan lele dumbo. Bibit Lele dumbo gres menetas biasanya dihargai menurut asumsi jumlah anakan Lele Dumbo, yang ditentukan menurut bobot induk dan jumlah induk Lele Dumbo.
- Penyediaan Bibit Ukuran 2-3 cm, dalam kurun waktu satu bulan sehabis menetas bibit lele dumbo telah mencapai ukuran 2-3 cm dan siap untuk dijual ke pasaran. Pembesaran benih lele dari menetas hingga ukuran ini idealnya ditempatkan pada kolam lumpur atau sawah, sehingga memerlukan lahan yang relatif luas. Meski di kolam terpal tetap sanggup dilakukan tetapi tidak sanggup dalam jumlah yang besar, meski demikian peluang perjuangan tetap terbuka. Pembesaran Lele Dumbo pada bak  atau kolam terpal pada ukuran ini memerlukan kuliner aksesori berupa pelet buatan pabrik.
- Penyediaan Bibit ukuran 5-7 cm, pada ukuran 5-7 cm benih lele dumbo siap dijual sebagai bibit yang mendatangkan peluang usaha. Biasanya ukuran ini dipelihara oleh peternak hingga ukuran layak konsumsi.

Pemeliharaan Lele Dumbo Untuk Konsumsi

Lele dumbo untuk keperluan konsumsi biasanya dipelihara mulai dari ukuran 5-7 cm atau lebih besar, untuk hasil panen cepat sanggup dilakukan dalam waktu 2 bulan dengan sumbangan kuliner yang ekstra dan optimal. Peluang perjuangan kebijaksanaan daya lele dumbo untuk konsumsi ini relatif lebih gampang sebab ukuran lele yang besar lebih tahan terhadap penyakit, dan tingkat hidup lebih tinggi. Untuk mendapat ukuran lele dumbo yang lebih besar memerlukan waktu 3 hingga 4 bulan.

Persiapan Pembuatan Kolam Terpal

Persiapan untuk kebijaksanaan daya lele dumbo dengan kolam terpal mencakup persiapan lahan kolam , persiapan material terpal ,dan persiapan perangkat pendukung. Lahan yang perlu disediakan diadaptasi dengan keadaan dan jumlah lele yang akan dipelihara. Untuk Pembesaran hingga tingkat konsumsi sanggup digunakan lahan dengan ukuran 2 x 1x 0.6 meter, yang sanggup diisi dengan 100 ekor lele dumbo ukuran 5-7 cm. Model pembuatan kolam sanggup dengan menggali tanah kemudian diberi terpal atau dengan menciptakan rangka dari kayu yang kemudian diberi terpal. Cara pertama lebih menciptakan terpal tahan lebih lama.

Pemeliharaan Lele Dumbo

Pertama kali kolam terpal diisi dengan air yang tidak terlalu dalam terlebh dahulu, untuk lele dumbo ukuran 5-7 cm sanggup diisi air 40 cm terlebih dahulu, semoga ikan tidak terlalu capek naik dan turun dasar kolam untuk mengambil oksigen, seiring dengan bertambahnya usia dan ukuran kedalaman air ditambah. Perlu disediakan pula rumpon atau semacam proteksi untuk lele. Karena lele merupakan ikan yang bahagia bersembunyi di tempat yang tertutup.
Pemberian pakan dilakukan dengan sumbangan pelet sehari dua kali, lebih manis lagi lebih dari dua kali tetapi dalam jumlah yang lebih sedikit. Jika di lingkungan tersedia pakan alami menyerupai Bekicot, kerang, keong emas, rayap dan lain-lain, sanggup diberikan kuliner alami tersebut. Makanan alami selain sanggup menghemat pengeluaran juga mempunyai kandungan protein yang tinggi sehingga pertumbuhan lele dumbo lebih cepat. Selain itu ada beberapa teknologi yang sanggup digunakan untuk mempercepat pertumbuhan ikan lele dan ikan lainnya.
Meski Lele dumbo tahan terhadap kondisi air yang jelek ada baiknya perlu diganti air sekitar 10-30% setiap minggu, semoga kolam tidak terlalu kotor dan berbau. Penyakit pada ikan lele gampang menyerang pada air yang kotor. Pada usia satu bulan atau bila diharapkan perlu dilakukan seleksi dan pemisahan lele yang mempunyai ukuran yang berbeda. Biasanya lele mengalami pertumbuhan yang tidak sama, sehingga bila tidak dipisahkan lele dengan ukuran kecil akan kalah bersaing dalam berebut makanan. Selain itu pisahkan bila ada ikan yang terindikasi terjangkit penyakit semoga tidak menular. 



Analisa Usaha Budidaya Lele
A. Biaya Investasi
1. 3 buah terpal ukuran 2 x 3: @Rp. 150.000,-     = Rp.  450.000,-
2. Selang 15 meter @Rp.2.500,-                          = Rp.   37.500,-
3. Ember karet 2 buah @Rp.10.000,-                  = Rp.   20.000,-
4. Gayung 1 buah @Rp. 5000,-                           = Rp.    5.000,-
5. Lamit 1 buah @Rp.15.000,-                            = Rp.   15.000,-
Jumlah = Rp.  527.500,-
B. Biaya Produksi
1. Bibit lele 5000 ekor @Rp.300,-                 = Rp.1.500.000,-
2. Pakan selama 3 bulan                                 = Rp.  337.000,-
3. Obat-obatan selama 3 bulan                       = Rp.   50.000,-
4. Tenaga Kerja                                             = Rp.  900.000,-
6. Biaya Penyusutan/ periode Rp.527.500 : 10      = Rp.   52.750,-
5. Biaya lain-lain                                                   = Rp.  100.000,-
Jumlah   = Rp.2.939.750,-
Perkiraan Hasil Panen :
70% x 5000 : 7 = 500 kg x Rp. 7000,                  = Rp. 3.500.000,-
Pendapatan =  Rp. 3.500.000 – 2.939.75            = Rp.   560.250,-
BEP =  Rp. 2.939.750 : 500 =  Rp.  5879.5
Nah, itu analisa perjuangan secara umum dengan perhitungan 5000 bibit lele yang di tanam.
Budidaya Ikan Lele

Budidaya Ikan Lele


 duri teratur dan sanggup disajikan dalam aneka macam macam sajian masakan Budidaya Ikan Lele
I. Pendahuluan.
Lele merupakan jenis ikan yang digemari masyarakat, dengan rasa yang lezat, daging empuk, duri teratur dan sanggup disajikan dalam aneka macam macam sajian masakan. Lele dumbo untuk keperluan konsumsi biasanya dipelihara mulai dari ukuran 5-7 cm atau lebih besar, untuk hasil panen cepat bisa dilakukan dalam waktu 2 bulan dengan pertolongan kuliner yang ekstra dan optimal. Peluang perjuangan kebijaksanaan daya lele dumbo untuk konsumsi ini relatif lebih gampang lantaran ukuran lele yang besar lebih tahan terhadap penyakit, dan tingkat hidup lebih tinggi. Untuk mendapat ukuran lele dumbo yang lebih besar memerlukan waktu 3 hingga 4 bulan.

II. Pembenihan Lele.
Adalah budidaya lele untuk menghasilkan benih hingga berukuran tertentu dengan cara mengawinkan induk jantan dan betina pada kolam-kolam khusus pemijahan. Pembenihan lele memiliki prospek yang anggun dengan tingginya konsumsi lele serta banyaknya perjuangan pembesaran lele.

Terdapat 3 sistem pembenihan yang dikenal, yaitu :
1. Sistem Massal. Dilakukan dengan menempatkan lele jantan dan betina dalam satu kolam dengan perbandingan tertentu. Pada sistem ini induk jantan secara leluasa mencari pasangannya untuk diajak kawin dalam sarang pemijahan, sehingga sangat tergantung pada keaktifan induk jantan mencari pasangannya.
2. Sistem Pasangan. Dilakukan dengan menempatkan induk jantan dan betina pada satu kolam khusus. Keberhasilannya ditentukan oleh ketepatan memilih pasangan yang cocok antara kedua induk.
3. Pembenihan Sistem Suntik (Hyphofisasi).
Dilakukan dengan merangsang lele untuk memijah atau terjadi ovulasi dengan suntikan ekstrak kelenjar Hyphofise, yang terdapat di sebelah bawah otak besar. Untuk keperluan ini harus ada ikan sebagai donor kelenjar Hyphofise yang juga harus dari jenis lele.


IV. Tahap Proses Budidaya.

A. Pembuatan Kolam.
Ada dua macam/tipe kolam, yaitu kolam dan kubangan (kolam galian). Pemilihan tipe kolam tersebut sebaiknya diubahsuaikan dengan lahan yang tersedia. Secara teknis baik pada tipe kolam maupun tipe galian, pembenihan lele harus memiliki :
Kolam tandon. Mendapatkan masukan air pribadi dari luar/sumber air. Berfungsi untuk pengendapan lumpur, persediaan air, dan penumbuhan plankton. Kolam tandon ini merupakan sumber air untuk kolam yang lain.
Kolam pemeliharaan induk. Induk jantan dan bertina selama masa pematangan telur dipelihara pada kolam tersendiri yang sekaligus sebagai kawasan pematangan sel telur dan sel sperma.
Kolam Pemijahan. Tempat perkawinan induk jantan dan betina. Pada kolam ini harus tersedia sarang pemijahan dari ijuk, kerikil bata, bambu dan lain-lain sebagai kawasan relasi induk jantan dan betina.
Kolam Pendederan. Berfungsi untuk membesarkan anakan yang telah menetas dan telah berumur 3-4 hari. Pemindahan dilakukan pada umur tersebut lantaran anakan mulai memerlukan pakan, yang sebelumnya masih memakai cadangan kuning telur induk dalam jalan masuk pencernaannya.

B. Pemilihan Induk
Induk jantan memiliki tanda :
- tulang kepala berbentuk pipih
- warna lebih gelap
- gerakannya lebih lincah
- perut ramping tidak terlihat lebih besar daripada punggung
- alat kelaminnya berbentuk runcing.
Induk betina bertanda :
- tulang kepala berbentuk cembung
- warna tubuh lebih cerah
- gerakan lamban
- perut mengembang lebih besar daripada punggung alat kelamin berbentuk bulat.

C. Persiapan Lahan.
Proses pengolahan lahan (pada kolam tanah) mencakup :
- Pengeringan. Untuk membersihkan kolam dan mematikan aneka macam bibit penyakit.
- Pengapuran. Dilakukan dengan kapur Dolomit atau Zeolit takaran 60 gr/m2 untuk mengembalikan keasaman tanah dan mematikan bibit penyakit yang tidak mati oleh pengeringan.
- Perlakuan TON (Tambak Organik Nusantara). untuk menetralkan aneka macam racun dan gas berbahaya hasil pembusukan materi organik sisa budidaya sebelumnya dengan takaran 5 botol TON/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100m2. Penambahan pupuk sangkar juga sanggup dilakukan untuk menambah kesuburan lahan.
- Pemasukan Air. Dilakukan secara bertahap, mula-mula setinggi 30 cm dan dibiarkan selama 3-4 hari untuk menumbuhkan plankton sebagai pakan alami lele.
Pada tipe kolam berupa bak, persiapan kolam yang sanggup dilakukan yakni :
- Pembersihan kolam dari kotoran/sisa pembenihan sebelumnya.
- Penjemuran kolam biar kering dan bibit penyakit mati. Pemasukan air fapat pribadi penuh dan segera diberi perlakuan TON dengan takaran sama

D. Pemijahan.
Pemijahan yakni proses pertemuan induk jantan dan betina untuk mengeluarkan sel telur dan sel sperma. Tanda induk jantan siap kawin yaitu alat kelamin berwarna merah. Induk betina tandanya sel telur berwarna kuning (jika belum matang berwarna hijau). Sel telur yang telah dibuahi melekat pada sarang dan dalam waktu 24 jam akan menetas menjadi anakan lele.
Untuk mengatasi kelangkaan bibit lele yang telah dilepas menjadi varietas unggulan nasional itu BBPBAT sudah menyebar indukan ke beberapa Unit Pembenihan Rakyat dan Balai Benih Ikan di Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Lampung. Beberapa pembibit swasta bersertifikat pun mulai menyediakan bibit sangkuriang. Bibit ukuran 2-3 cm dijual Rp35-Rp40/ekor; 3-5 cm Rp70-Rp75/ekor; dan 5-7 cm Rp115/ekor. Diharapkan tahun depan lele-lele sangkurianglah yang memenuhi kebutuhan warung-warung pecel lele di setiap penjuru kota.

E. Pemindahan.
Cara pemindahan :
- kurangi air di sarang pemijahan hingga tinggi air 10-20 cm.
- siapkan kawasan penampungan dengan bejana atau ember yang diisi dengan air di sarang.
- samakan suhu pada kedua kolam
- pindahkan benih dari sarang ke wadah penampungan dengan cawan atau piring.
- pindahkan benih dari penampungan ke kolam pendederan dengan hati-hati pada malam hari, lantaran masih rentan terhadap tingginya suhu air.

F. Pendederan.
Adalah pembesaran hingga berukuran siap jual, yaitu 5 - 7 cm, 7 - 9 cm dan 9 - 12 cm dengan harga berbeda. Kolam pendederan permukaannya diberi pelindung berupa enceng gondok atau epilog dari plastik untuk menghindari naiknya suhu air yang mengakibatkan lele gampang stress. Pemberian pakan mulai dilakukan semenjak anakan lele dipindahkan ke kolam pendederan ini.

V. Manajemen Pakan.
Pakan anakan lele berupa :
- pakan alami berupa plankton, jentik-jentik, kutu air dan cacing kecil (paling baik) dikonsumsi pada umur di bawah 3 - 4 hari.
- Pakan buatan untuk umur diatas 3 - 4 hari. Kandungan nutrisi harus tinggi, terutama kadar proteinnya.
- Untuk menambah nutrisi pakan, setiap pertolongan pakan buatan dicampur dengan POC NASA dengan takaran 1 - 2 cc/kg pakan (dicampur air secukupnya), untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tubuh lantaran mengandung aneka macam unsur mineral penting, protein dan vitamin dalam jumlah yang optimal.

VI. Manajemen Air.
Ukuran kualitas air sanggup dinilai secara fisik :
- air harus bersih
- berwarna hijau cerah
- kecerahan/transparansi sedang (30 - 40 cm).

Ukuran kualitas air secara kimia :
- bebas senyawa beracun ibarat amoniak
- memiliki suhu optimal (22 - 26 0C).

Untuk menjaga kualitas air biar selalu dalam keadaan yang optimal, pertolongan pupuk TON sangat diperlukan. TON yang mengandung unsur-unsur mineral penting, lemak, protein, karbohidrat dan asam humat bisa menumbuhkan dan menyuburkan pakan alami yang berupa plankton dan jenis cacing-cacingan, menetralkan senyawa beracun dan membuat ekosistem kolam yang seimbang. Perlakuan TON dilakukan pada ketika oleh lahan dengan cara dilarutkan dan di siramkan pada permukaan tanah kolam serta pada waktu pemasukan air gres atau sekurang-kurangnya setiap 10 hari sekali. Dosis pemakaian TON yakni 25 g/100m2.

VI. Manajemen Kesehatan.
Pada dasarnya, anakan lele yang dipelihara tidak akan sakit kalau memiliki ketahanan tubuh yang tinggi. Anakan lele menjadi sakit lebih banyak disebabkan oleh kondisi lingkungan (air) yang jelek. Kondisi air yang buruk sangat mendorong tumbuhnya aneka macam bibit penyakit baik yang berupa protozoa, jamur, kuman dan lain-lain. Maka dalam menejemen kesehatan pembenihan lele, yang lebih penting dilakukan yakni penjagaan kondisi air dan pertolongan nutrisi yang tinggi. Dalam kedua hal itulah, peranan TON dan POC NASA sangat besar. Namun apabila anakan lele terlanjur terjangkit penyakit, dianjurkan untuk melaksanakan pengobatan yang sesuai. Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh jerawat protozoa, kuman dan jamur sanggup diobati dengan formalin, larutan PK (Kalium Permanganat) atau garam dapur. Penggunaan obat tersebut haruslah hati-hati dan takaran yang dipakai juga harus sesuai.
Belajar Sukses Budidaya Lele Sangkuriang

Belajar Sukses Budidaya Lele Sangkuriang


Ternak lele sangkuriang merupakan solusi bagi anda yang sudah pernah atau sedang beternak jenis lele dumbo. Lele sangkuriang ini mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan lele dumbo diantaranya masa panen yang lebih pendek yaitu sekitar 40 hari, tahan terhadap penyakit dan warna kulit lebih terperinci sehingga lebih menarik dimata konsumen. Lele sangkuriang ini hasil dari perkawinan anak lele ke ibunya sehingga disebut sangkuriang yang menikahi ibunya sendiri. Hasil dari perkawinan ini menghasilkan lele unggul yaitu jenis sangkuriang.Budidaya lele Sangkuriang sanggup dilakukan di areal dengan ketinggian 1 m - 800 mdpi. Persyaratan lokasi, baik kualitas tanah maupun air tidak terlalu spesifik, artinya dengan penggunaan teknologi yang memadai terutama pengaturan suhu air budidaya masih tetap sanggup dilakukan pada lahan yang mempunyai ketinggian diatas >800 m dpi. Namun jikalau budidaya dikembangkan dalam skala massal harus tetap memperhatikan tata ruang dan lingkungan sosial sekitarnya artinya tempat budidaya yang dikembangkan sejalan dengan kebijakan yang dilakukan Pemerintah Daerah setempat. Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air Tawar yang sudah dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa. Budidaya lele berkembang pesat dikarenakan ikan lele sanggup dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi,  teknologi budidaya relatif gampang dikuasai oleh masyarakat, dan pemasarannya relatif gampang dan modal perjuangan yang dibutuhkan relatif rendah.

Pengembangan perjuangan budidaya ikan lele semakin meningkat sehabis masuknya jenis ikan lele dumbo ke Indonesia pada tahun 1985. Keunggulan lele dumbo dibanding lele lokal antara lain tumbuh lebih cepat, jumlah telur lebih banyak dan lebih tahan terhadap penyakit.
Namun demikian perkembangan budidaya yang pesat tanpa didukung pengelolaan induk yang baik menjadikan lele dumbo mengalami penurunan kualitas. Hal ini alasannya yaitu adanya perkawinan sekerabat (inbreeding), seleksi induk yang salah atas penggunaan induk yang berkualitas rendah. Penurunan kualitas ini sanggup diamati dari abjad umum pertama matang gonad, derajat penetasan telur, pertumbuhan harian, daya tahan terhadap penyakit dan nilai FCR (Feeding Conversion Rate).
Sebagai upaya perbaikan mutu ikan lele dumbo BBAT Sukabumi telah berhasil melaksanakan rekayasa genetik untuk menghasilkan lele dumbo strain gres yang diberi nama lele “Sangkuriang”.
Seperti halnya sifat biologi lele dumbo terdahulu, lele Sangkuriang tergolong omnivora. Di alam ataupun lingkungan budidaya, ia sanggup memanfaatkan plankton, cacing, insekta, udang-udang kecil dan mollusca sebagai makanannya. Untuk perjuangan budidaya, penggunaan pakan komersil (pellet) sangat dianjurkan alasannya yaitu besar lengan berkuasa besar terhadap peningkatan efisiensi dan produktivitas.
Tujuan pembuatan Petunjuk Teknis ini yaitu untuk memperlihatkan cara dan teknik pemeliharaan ikan lele dumbo strain Sangkuriang yang dilakukan dalam rangka peningkatan produksi Perikanan untuk meningkatkan ketersediaan protein hewani dan tingkat konsumsi ikan bagi masyarakat Indonesia.
Berdasarkan keunggulan lele dumbo hasil perbaikan mutu dan sediaan induk yang ada di BBAT Sukabumi, maka lele dumbo tersebut layak untuk dijadikan induk dasar yaitu induk yang dilepas oleh Menteri Kelautan dan Perikanan dan telah dilakukan diseminasi kepada instansi/pembudidaya yang memerlukan. Induk lele dumbo hasil perbaikan ini, diberi nama “Lele Sangkuriang”. Induk lele Sangkuriang merupakan hasil perbaikan genetik melalui cara silang balik antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan generasi keenam (F6). Induk betina F2 merupakan koleksi yang ada di Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi yang berasal dari keturunan kedua lele dumbo yang diintroduksi ke Indonesia tahun 1985. Sedangkan induk jantan F6 merupakan sediaan induk yang ada di Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi. Induk dasar yang didiseminasikan dihasilkan dari silang balik tahap kedua antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan hasil silang balik tahap pertama (F2 6).
Budidaya lele Sangkuriang sanggup dilakukan di areal dengan ketinggian 1 m – 800 m dpi. Persyaratan lokasi, baik kualitas tanah maupun air tidak terlalu spesifik, artinya dengan penggunaan teknologi yang memadai terutama pengaturan suhu air budidaya masih tetap sanggup dilakukan pada lahan yang mempunyai ketinggian diatas >800 m dpi. Namun jikalau budidaya dikembangkan dalam skala massal harus tetap memperhatikan tata ruang dan lingkungan sosial sekitarnya artinya tempat budidaya yang dikembangkan sejalan dengan kebijakan yang dilakukan Pemerintah Daerah setempat.
Budidaya lele, baik acara pembenihan maupun pembesaran sanggup dilakukan di kolam tanah, kolam tembok atau kolam plastik. Budidaya di kolam tembok dan kolam plastik sanggup memanfaatkan lahan pekarangan ataupun lahan marjinal lainnya.
Sumber air sanggup memakai pedoman irigasi, air sumu (air permukaan atau sumur dalam), ataupun air hujan yan sudah dikondisikan terlebih dulu. Parameter kualitas air yan baik untuk pemeliharaan ikan lele sangkuriang yaitu sebagai berikut:
  1. Suhu air yang ideal untuk pertumbuhan ikan lele berkisar antara 22-32°C. Suhu air akan menghipnotis laju pertumbuhan, laju metabolisme ikan dan napsu makan ikan serta kelarutan oksigen dalam air.
  2. pH air yang ideal berkisar antara 6-9.
  3. Oksigen terlarut di dalam air harus > 1 mg/l.
Budidaya ikan lele Sangkuriang sanggup dilakukan dalam kolam plastik, kolam tembok atau kolam tanah. Dalam budidaya ikan lele di kolam yang perlu diperhatikan yaitu pembuatan kolam, pembuatan pintu pemasukan dan pengeluaran air.
Bentuk kolam yang ideal untuk pemeliharaan ikan lele yaitu empat persegi panjang dengan ukuran 100-500 m2. Kedalaman kolam berkisar antara 1,0-1,5 m dengan kemiringan kolam dari pemasukan air ke pembuangan 0,5%. Pada bab tengah dasar kolam dibentuk parit (kamalir) yang memanjang dari pemasukan air ke pengeluaran air (monik). Parit dibentuk selebar 30-50 cm dengan kedalaman 10-15 cm.
Sebaiknya pintu pemasukan dan pengeluaran air berukuran antara 15-20 cm. Pintu pengeluaran sanggup berupa monik atau siphon. Monik terbuat dari semen atau tembok yang terdiri dari dua bab yaitu bab kotak dan pipa pengeluaran. Pada bab kotak dipasang papan penyekat terdiri dari dua lapis yang diantaranya diisi dengan tanah dan satu lapis saringan. Tinggi papan diubahsuaikan dengan tinggi air yang dikehendaki. Sedangkan pengeluaran air yang berupa siphon lebih sederhana, yaitu hanya terdiri dari pipa paralon yang terpasang didasar kolam dibawah pematang dengan tunjangan pipa berbentuk “L” mencuat ke atas sesuai dengan ketinggian air kolam.
Saringan sanggup dipasang pada pintu pemasukan dan pengeluaran biar ikan-ikan jangan ada yang lolos keluar/masuk.

Pelaksanaan Budidaya
Sebelum benih ikan lele ditebarkan di kolam pembesaran, yang perlu diperhatikan yaitu wacana kesiapan kolam meliputi:

a.
Persiapan kolam tanah (tradisional)


Pengolahan dasar kolam yang terdiri dari pencangkulan atau pembajakan tanah dasar kolam dan meratakannya. Dinding kolam diperkeras dengan memukul-mukulnya dengan memakai balok kayu biar keras dan padat supaya tidak terjadi kebocoran. Pemopokan pematang untuk kolam tanah (menutupi bagian-bagian kolam yang bocor).


Untuk tempat berlindung ikan (benih ikan lele) sekaligus mempermudah pemanenan maka dibentuk parit/kamalir dan kubangan (bak untuk pemanenan).


Memberikan kapur ke dalam kolam yang bertujuan untuk memberantas hama, penyakit dan memperbaiki kualitas tanah. Dosis yang dianjurkan yaitu 20-200 gram/m2, tergantung pada keasaman kolam. Untuk kolam dengan pH rendah sanggup diberikan kapur lebih banyak, juga sebaliknya apabila tanah sudah cukup baik, pemberian kapur sanggup dilakukan sekedar untuk memberantas hama penyakit yang kemungkinan terdapat di kolam.


Pemupukan dengan kotoran ternak ayam, berkisar antara 500-700 gram/m2; urea 15 gram/m2; SP3 10 gram/m2; NH4N03 15 gram/m2.


Pada pintu pemasukan dan pengeluaran air dipasang penyaring


Kemudian dilakukan pengisian air kolam.


Kolam dibiarkan selama ± 7 (tujuh) hari, guna memberi kesempatan tumbuhnya masakan alami.
b.
Persiapan kolam tembok

Persiapan kolam tembok hampir sama dengan kolam tanah. Bedanya, pada kolam tembok tidak dilakukan pengolahan dasar kolam, perbaikan parit dan kolam untuk panen, alasannya yaitu parit dan kolam untuk panen biasanya sudah dibentuk Permanen.
c.
Penebaran Benih

Sebelum benih ditebarkan sebaiknya benih disuci hamakan dulu dengan merendamnya didalam larutan KM5N04 (Kalium permanganat) atau PK dengan takaran 35 gram/m2 selama 24 jam atau formalin dengan takaran 25 mg/l selama 5-10 menit.

Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari atau pada ketika udara tidak panas. Sebelum ditebarkan ke kolam, benih diaklimatisasi dulu (perlakuan pembiasaan suhu) dengan cara memasukan air kolam bertahap ke dalam wadah pengangkut benih. Benih yang sudah teraklimatisasi akan dengan sendirinya keluar dari kantong (wadah) angkut benih menuju lingkungan yang gres yaitu kolam. Hal ini berarti bahwa perlakuan tersebut dilaksanakan diatas permukaan air kolam dimana wadah (kantong) benih mengapung diatas air. Jumlah benih yang ditebar 35-50 ekor/m2 yang berukuran 5-8 cm.
d.
Pemberian Pakan

Selain masakan alami, untuk mempercepat pertumbuhan ikan lele perlu pemberian masakan embel-embel berupa pellet. Jumlah masakan yang diberikan sebanyak 2-5% perhari dari berat total ikan yang ditebarkan di kolam. Pemberian pakan frekuensinya 3-4 kali setiap hari. Sedangkan komposisi masakan buatan sanggup dibentuk dari adonan dedak halus dengan ikan rucah dengan perbandingan 1:9 atau adonan dedak halus, bekatul, jagung, cincangan bekicot dengan perbandingan 2:1:1:1 adonan tersebut sanggup dibentuk bentuk pellet.
e.
Pemanenan

Ikan lele Sangkuriang akan mencapai ukuran konsumsi sehabis dibesarkan selama 130 hari, dengan bobot antara 200 – 250 gram per ekor dengan panjang 15 – 20 cm. Pemanenan dilakukan dengan cara menyurutkan air kolam. Ikan lele akan berkumpul di kamalir dan kubangan, sehingga gampang ditangkap dengan memakai waring atau lambit. Cara lain penangkapan yaitu dengan menggunakan  pipa ruas bambu atau pipa paralon/bambu diletakkan didasar kolam, pada waktu air kolam disurutkan, ikan lele akan masuk kedalam ruas bambu/paralon, maka dengan gampang ikan sanggup ditangkap atau diangkat. Ikan lele hasil tangkapan dikumpulkan pada wadah berupa ayakan/happa yang dipasang di kolam yang airnya terus mengalir untuk diistirahatkan sebelum ikan-ikan tersebut diangkut untuk dipasarkan.
Pengangkutan ikan lele sanggup dilakukan dengan memakai karamba, pikulan ikan atau jerigen plastik yang diperluas lubang permukaannya dan dengan jumlah air yang sedikit.

Kegiatan budidaya lele Sangkuriang di tingkat pembudidaya sering dihadapkan pada permasalahan timbulnya penyakit atau kematian ikan. Pada acara pembesaran, penyakit banyak ditimbulkan akhir buruknya penanganan kondisi lingkungan. Organisme predator yang biasanya menyerang antara lain ular dan belut. Sedangkan organisme pathogen yang sering menyerang yaitu Ichthiophthirius sp., Trichodina sp., Monogenea sp. dan Dactylogyrus sp.
Penanggulangan hama insekta sanggup dilakukan dengan pemberian insektisida yang direkomendasikan pada ketika pengisian air sebelum benih ditanam. Sedangkan penanggulangan belut sanggup dilakukan dengan pencucian pematang kolam dan pemasangan plastik di sekeliling kolam.
Penanggulangan organisme pathogen sanggup dilakukan dengan pengelolaan lingkungan budidaya yang baik dan pemberian pakan yang teratur dan mencukupi. Pengobatan sanggup memakai obat-obatan yang direkomendasikan.
Pengelolaan lingkungan sanggup dilakukan dengan melaksanakan persiapan kolam dengan baik. Pada acara budidaya dengan memakai kolam tanah, persiapan kolam mencakup pengeringan, pembalikan tanah, perapihan pematang, pengapuran, pemupukan, pengairan dan pengkondisian tumbuhnya plankton sebagai sumber pakan. Pada acara budidaya dengan memakai kolam tembok atau kolam plastik, persiapan kolam mencakup pengeringan, disenfeksi (bila diperlukan), pengairan dan pengkondisian tumbuhnya plankton sebagai sumber pakan. Perbaikan kondisi air kolam sanggup pula dilakukan dengan penambahan materi probiotik.
Untuk menghindari terjadinya penularan penyakit, maka hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
  • Pindahkan segera ikan yang memperlihatkan tanda-tanda sakit dan diobati secara terpisah. Ikan yang tampak telah parah sebaiknya dimusnahkan.
  • Jangan membuang air bekas ikan sakit ke kanal air.
  • Kolam yang telah terjangkit harus segera dikeringkan dan dilakukan pengapuran dengan takaran 1 kg/5 m2. Kapur (CaO) ditebarkan merata didasar kolam, kolam dibiarkan hingga tanah kolam retak-retak.
  • Kurangi kepadatan ikan di kolam yang terjangkit penyakit.
  • Alat tangkap dan wadah ikan harus dijaga biar tidak terkotori penyakit. Sebelum digunakan lagi sebaiknya dicelup dulu dalam larutan Kalium Permanganat (PK) 20 ppm (1 gram dalam 50 liter air) atau larutan kaporit 0,5 ppm (0,5 gram dalam 1 m3 air).
  • Setelah memegang ikan sakit cucilah tangan kita dengan larutan PK
  • Bersihkan selalu dasar kolam dari lumpur dan sisa materi organik
  • Usahakan biar kolam selalu mendapat air segar atau air baru.
  • Tingkatkan gizi masakan ikan dengan menambah vitamin untuk menambah daya tahan ikan.
ANALISA USAHA
Pembesaran lele Sangkuriang di kolam plastik

1.
Investasi

a.
Sewa lahan 1 tahun @ Rp 1.000.000,-
=
Rp
1.000.000,-

b.
Bak kayu lapis plastik 3 unit @ Rp 500.000,-
=
Rp
1.500.000,-

c.
Drum plastik 5 buah @ Rp 150.000,-
=
Rp
750.000,-




Rp
3.250.000,-
2.
Biaya Tetap

a.
Penyusutan lahan Rp 1.000.000,-/1 thn
=
Rp
1.000.000,-

b.
Penyusutan kolam kayu lapis plastik Rp 1.500.000,-/2 thn
=
Rp
750.000,-

c.
Penyusutan drum plastik Rp 750.000,-/5 thn
=
Rp
150.000,-




Rp
1.900.000,-
3.
Biaya Variabel




a.
Pakan 4800 kg @ Rp 3700
=
Rp
17.760.000,-

b.
Benih ukuran 5-8 cm sebanyak 25.263 ekor @ Rp 80,-
=
Rp
2.021.052,63

c.
Obat-obatan 6 unit @ Rp 50.000,-
=
Rp
300.000,-

d.
Alat perikanan 2 paket @ Rp 100.000,-
=
Rp
200.000,-

e.
Tenaga kerja tetap 12 OB @ Rp 250.000,-
=
Rp
3.000.000,-

f.
Lain-lain 12 bin @ Rp 100.000,-
=
Rp
1.200.000,-




Rp
24.281.052,63
4.
Total Biaya




Biaya Tetap + Biaya Variabel




=
Rp 1.900.000,- + Rp 24.281.052,63




=
Rp 26.181.052,63



5.
Produksi lele konsumsi 4800 kg x Rp 6000/kg -Rp 28.800.000,
6.
Pendapatan




Produksi - (Biaya tetap + Biaya Variabel)




=
Rp 28.800.000,- – ( Rp 1.900.000,- + Rp 24.281.052,63)

=
Rp 2.418.947,37



7.
Break Event Point (BEP)




Volume produksi
=
4.396,84 kg

Harga produksi
=
Rp 5.496,05
Sumber :Buku Budidaya Lele Sangkuriang, Dit. Pembudidayaan, Ditjen Perikanan Budidaya